Generasi Baru Indonesia Tegal

Jumat, 06 September 2019

Peran Pemerintah dan Bank Indonesia dalam Menjaga Kestabilan Inflasi


Baru - baru ini terdengar berita menggembirakan bahwa inflasi di daerah jakarta menurun dibanding bulan sebelumnya yaitu mencapai 0, 17 persen. Faktor-faktor diantara menurunnnya pengeluaran dalam pembelanjaan bahan makanan, wisata, biaya pendidikan, serta transportasi. Dalam hal ini artinya peran Bank Indonesia dan pemerintah cukup selaras dalam upaya mencegah dan menjaga kestabilan inflansi, sebagai contoh pemerintah yang telah selesai membangun teknologi transportasi berupa KRL sehingga dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk mahalnya transportasi. Bank indonesia yang juga ikut andil dalam membantu memberikan sarana pendidikan seperti pengadaan beasiswa khususnya dalam ranah perguruan tinggi yang didalamnya juga terbentuk suatu komunitas penerima beasiswa yang memiliki tujuan berisinergi untuk negeri indonesia ini.
Peran Pemerintah dan Bank Indonesia dalam Menjaga Kestabilan Inflasi
Komunitas penerima beasiswa bank indonesia yang terkenal dengan GenBi ( Generasi Baru Indonesia) tersebar luas di seluruh indonesia, mereka masing-masing saling berlomba-lomba untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk negeri sekaligus ikut mensosialisasikan terkait kebijikan dari Bank Indonesia. Salah satunya yaitu memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait pentingnya mengatur dan meminimalisir anggaran atau pengeluaran belanja sehingga dapat ikut serta menjaga kestabilan inflansi serta mengedukasi terkait ciri-ciri keaslian uang rupiah dan tata cara penggunaan dan menjaga keasliannya baik melalui sosialisasi maupun seminar.
Salah satu yang paling urgen dan beredar di masyarakat yaitu mengenai penggunaan uang rupiah menjadi mahar dalam bentuk hiasan dengan melipat, mensolasi maupun mengelem uang yang akibatnya dapat merusak uang. Hal tersebut di atur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Uang, diatur dalam pasal 26 terkait larangan merusak dan merendahkan uang rupiah serta diatur tindak pidananya dalam pasal 35 dengan hukuman paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Jikalau dikaitkan dengan mahar dalam perspektif fiqh munakahat atau pernikahan, mahar tersebut tidak diharuskan diberikan berupa uang dalam bentuk bingkisan atau hiasan akan tetapi adalah wujud aslinya yang dapat diberikan kepada istrinya sebagai hadiah rasa cinta dan kasih sayang sehingga dapat dimanfaatkan secara lahir. Apabila uang rupiah asli dibuat hiasan justru akan banyak menimbulkan madharat, baik dalam hal pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan juga dalam pemanfaatannya. 

Penulis : Yulia Maulidyawanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar