Generasi Baru Indonesia Tegal

Kamis, 05 September 2019

Peran Bank Indonesia Terhadap Inflasi


Dalam perekonomian setiap negara pasti memiliki bank sentral atau setidak-tidaknya memiliki salah satu bank atau lembaga yang bertindak dan menjalankan fungsi bank sentral. Bank sentral memiliki fungsi yang penting dalam pengaturan ekonomi dan moneter disuatu negara.
Berdasarkan peran dan fungsi dari Bank Indonesia, kinerja Bank Indonesia sangat dituntut untuk dapat menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah dan tingkatinflasi. Inflasi adalah kenaikan harga-harga secara umum, artinya inflasi harus menggambarkan kenaikan harga sejumlah besar barang dan jasa yang dipergunakan (dikonsumsi) dalam suatu perekonomian.
 Dengan inflasi, maka daya beli suatu mata uang menjadi lebih rendah atau menurun. Dengan menurunnya daya beli mata uang, maka kemampuan masyarakat dalam membeli barang dan jasa kebutuhan sehari-hari akan menjadi semakin rendah. Laju inflasi yang tidak stabil juga menyulitkan perencanaan bagi dunia usaha, tidak mendorong masyarakat untuk menabung, dan berbagai dampak negatif lain yang tidak kondusif bagi perekonomian secara keseluruhan.
Laju nflasi dapat terjadi pada tingkat yang ringan, sedang, berat, danhiperinflasi. Menurut Wikipedia, inflasi ringan terjadi apabila kenaikan hargaberada di bawah 10%; inflasi sedang antara 10 - 30%; dan inflasi beratantara 30 -100% per tahun; dan hiperinflasi atau inflasi tidak terkendaliterjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Di Indonesia, misalnya, apabila angkainflasi masih berupa angka satu digit, misalnya 6-7%, maka tingkat inflasitersebut masih dianggap sebagai inflasi yang relatif wajar meskipun tingkatinflasi tersebut relatif lebih tinggi daripada tingkat inflasi negara-negara dikawasan regional. Sedangkan tingkat inflasi untuk negara maju berkisarantara 2-3%. Sebaliknya suatu laju inflasi juga dapat terjadi pada suatuangka yang negatif, yang berarti perkembangan harga barang dan jasa secaraumum dalam suatu perekonomian mengalami penurunan dari waktu kewaktu atau disebut deflasi.
Untuk menghitung angka laju inflasi terlebih dahulu dilakukanpenghitungan angka indeks dengan menggunakan sejumlah barang danjasa yang dipergunakan atau dikonsumsi oleh masyarakat. Jumlah barangdan jasa yang dipergunakan dalam penghitungan angka indeks tersebutberbeda dari satu negara dan negara yang lain dan juga dari waktu ke waktudalam satu negara tertentu, sesuai dengan kondisi sosial ekonomi konsumenatau masyarakat yang bersangkutan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi :
1.    Faktor Permintaan, Dengan melambatnya pertumbuhan ekspor, maka akan terhambat kemampuan untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkan. Seringkali negara berkembang melakukan kebijakan substitusi impor meskipun dengan biaya yang tinggi dan mengakibatkanharga barang yang tinggi sehingga menimbulkan inflasi.
2.    Faktor Penawaran, sering disebut sebagai cost push atau supply shock inflation. Jenis inflasi ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi atau biaya pengadaan barang dan jasa. Termasuk dalam jenis inflasi ini adalah inflasi yang disebabkan faktor penawaran lainnya yang memicu kenaikan harga penawaran atas suatu barang (termasuk barang-barang yang harus diimpor),serta harga barang-barang yang dikendalikan oleh Pemerintah.
3.    Faktor Ekspetasi, disebabkan oleh ekspektasi pelaku ekonomi yang didasarkan pada perkiraan yang akan datang akibat adanya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pada saat ini.
ketika perekonomiansuatu negara mengalami inflasi yang tinggi, maka dapat dipastikan bahwa masyarakat akan berusaha mengurangi jumlah uang yang dipegang dan, sebaliknya akan berusaha untuk menukarkannya pada barang yang nilainya tidak mudah merosot karena inflasi. Hal tersebut lebih lanjut akan berpengaruh terhadap transaksi ekonomi dan alokasi sumber daya yang ada dalam perekonomian yang bersangkutan.
Oleh karena itu peran pemerinah dan bank indonesia sangatlah diperlukan dalam mengendalikan inflasi. Peran Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi adalah dengan tiga langkah strategis yang disepakati untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasarannya adalah sebagai berikut:
1.    Menjaga inflasi dalam kisaran sasaran, terutama ditopang pengendalian inflasi volatile food maksimal di kisaran 4-5%. Strategi ini dilakukan melalui empat kebijakan utama (4K) terkait Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Sesuai dengan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Nasional 2019-2021, kebijakan ditempuh dengan memberikan prioritas kepada Ketersediaan Pasokan dan Kelancaran Distribusi, yang didukung oleh ekosistem yang lebih kondusif serta ketersediaan data yang akurat.
2.    Memperkuat pelaksanaan Peta Jalan Pengendalian Inflasi Nasional 2019-2021 dengan menempuh pula pelaksanaan Peta Jalan Pengendalian Inflasi di tingkat Provinsi.
3.    Memperkuat koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pengendalian inflasi melalui penyelenggaraan Rakornas Pengendalian Inflasi dengan tema “Sinergi dan Inovasi Pengendalian Inflasi untuk Penguatan Ekonomi yang Inklusif”. Rakornas selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Rakorpusda Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).


Penulis : Fatkhu Nadiah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar