Generasi Baru Indonesia Tegal

Kamis, 05 September 2019

PENGENDALIAN INFLASI SEBAGAI SARANA PENSTABILAN PEREKONOMIAN OLEH BANK INDONESIA



PENGENDALIAN INFLASI SEBAGAI SARANA PENSTABILAN PEREKONOMIAN OLEH BANK INDONESIA
OLEH : MAUSUFATUL KHASANAH

ABSTRAK
Inflasi adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan. Setiap negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi akan mengalaminya. Biasanya untuk mengatasi hal ini berbagai jenis produk dipasaran akan dijual dengan harga lebih tinggi. Stabilitas perekonomian adalah prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kepastian  berusaha bagi para pelaku ekonomi. Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian
inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Kata Kunci: Pengendalian Inflasi, Ketsabilan Ekonomi

A.    Pendahuluan
Inflasi merupakan masalah yang serius mengenai kestabilan ekonomi suatu negara. Dampak dari inflasi ini juga berpengaruh ke semua bidang, tidak hanya ekonomi saja bahkan negara lain pun dapat terkena dampak inflasi dari negara lainnya. Beberapa masalah yang ditimbulkan dari inflasi seperti turunnya nilai mata uang, kenaikan harga, peningkatan pengangguran, penurunan kesejahteraan, hilangnya investasi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Layaknya lingkaran setan, maka inflasi harus segera diatasi sebelum menimbulkan berbagai macam masalah yang lebih besar.
Di Indonesia, untuk mengatasi inflasi sudah ada lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah yakni Bank Indonesia. Bank Indonesia memiliki tugas mengatasi inflasi dengan kebijakan-kebijakan yang dapat mereka buat. Mengingat dampak inflasi yang begitu besar, maka akan lebih baik juga jika perusahaan turut serta dalam menghadapi masalah inflasi ini. Anda juga memiliki peran dalam mencegah inflasi dengan melakukan kegiatan yang tidak memicu inflasi. Selain itu, perusahaan juga dapat dan sebaiknya membuat strategi untuk menghadapi inflasi.
Segala macam penelitian dan sudah banyak dibuat analisisnya tentang kondisi perekonomian yang eksis dewasa ini, yang pada akhirnya kita dihadapkan pada satu premis umum bahwa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi ibarat sekeping mata uang logam yang perlu dikelola dengan cara seksama dan penuh tanggung jawab. Karena ekonomi menyangkut kebutuhan hajat hidup orang banyak di seluruh dunia. Semua negara di dunia memerlukan rakyatnya hidup sejahtera dan makmur. Sehingga diperlukan ekosistem yang bisa menjaga stabilitas dan sekaligus menciptakan pertumbuhan.

B.     Pembahasan
1.      Inflasi
a.      Pengertian Inflasi
Secara sederhana, inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.[1] Secara umum, Pengertian inflasi adalah suatu keadaan perekonomian di mana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam waktu yang panjang. Kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan harga pada masa lebaran tidak dianggap sebagai inflasi, karena di saat setelah masa lebaran, harga-harga dapat turun kembali. Inflasi dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan mengendalikannya. Jika inflasi meningkat, maka harga barang dan jasa di dalam negeri mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa juga menyebabkan turunnya nilai mata uang. Dengan demikian,  inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.[2]
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan yakni inflasi ringan, sedang, berat dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi bila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun, inflasi sedang antara 10%-30% setahun, inflasi berat antara 30%-100% setahun, dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun. Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation  dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara  partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Inflasi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditi impor (imported inflation) seiring dengan membengkaknya hutang luar negeri akibat dari terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dan mata uang asing lainnya. Akibatnya, untuk mengendalikan inflasi terlebih dahulu harus dilakukan penstabilan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya dolar Amerika.[3] Faktor penyebab terjadinya demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makro ekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kepastian perekonomian. Inflasi ini bisa terjadi karena permintaan atau daya tarik masyarakat yang kuat terhadap suatu barang dan atau karena munculnya keinginan berlebihan dari suatu kelompok masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia di pasaran. Karena keinginan yang terlalu berlebihan itu, permintaan menjadi bertambah, sedangkan penawaran masih tetap yang akhirnya mengakibatkan harga menjadi naik.[4] Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspetasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan Upah Minimum Regional (UMR). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari kondisi supply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMR, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.[5]
Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada tahun depan. Di samping itu, negara-negara maju juga diperkirakan bakal mengambil langkah pengetatan moneter. Misalnya, perkiraan soal normalisasi kebijakan moneter European Central Bank serta kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Untuk meredam gejolak tersebut, BI tengah mempersiapkan sejumlah kebijakan yang bakal ditempuh pada 2019. "Langkah tersebut akan fokus pada stabilitas, khususnya pengendalian inflasi sesuai sasaran 3,5+1 persen dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, kemarin (27/11/2018). Pertama, BI akan mempertahankan kebijakan moneter yang bersifat pencegahan (pre-emptive) dan ahead-the-curve setelah menaikkan bunga acuan 175 bps sejak awal tahun. Kedua, menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong intermediasi perbankan dalam pembiayaan ekonomi. Termasuk, kata dia, "untuk menjaga ketahanan sistem keuangan dengan memperkuat surveilans terhadap bank-bank besar dan korporasi yang sistemik." Ketiga, kebijakan sistem pembayaran akan terus dikembangkan untuk kelancaran, efisiensi, dan keamanan transaksi pembayaran non-tunai maupun tunai, termasuk dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital. Keempat, akselerasi pendalaman pasar keuangan terus didorong untuk mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan pembiayaan ekonomi secara lebih luas serta terus berpartisipasi aktif dalam inovasi berbagai instrumen pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur ke depan. Kelima, mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, baik melalui program-program Bank Indonesia maupun sebagai bagian program Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Keenam, perluasan pengembangan UMKM dengan fokus pada pengendalian inflasi dan penurunan defisit transaksi berjalan. Dan Terakhir, mengarahkan kebijakan internasional untuk memperkuat persepsi positif terhadap Indonesia dan berperan aktif dalam perumusan kebijakan di berbagai lembaga internasional. Bank Indonesia juga akan semakin memperkuat sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional dengan Pemerintah, OJK, dan otoritas lainnya. Sinergi bauran kebijakan akan diarahkan untuk pengendalian inflasi, perbaikan struktur ekonomi, stabilitas sistem keuangan, akselerasi pendalaman pasar keuangan serta ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Meski demikian, menurut Perry, prospek ekonomi Indonesia pada tahun depan juga akan semakin membaik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan stabilitas yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan tetap meningkat hingga mencapai kisaran 5,0-5,4 persen. "Inflasi 2019 tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5+1 persen dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, volatile foods dan administered prices, ekspektasi inflasi, dan stabilnya nilai tukar rupiah," imbuh dia. Sementara untuk defisit transaksi berjalan (CAD) 2019, "akan turun menjadi sekitar 2,5% dari PDB dengan langkah-langkah pengendalian impor serta peningkatan ekspor dan pariwisata." [6]
b.      Cara Mengatasi Masalah Inflasi
Mengingat pentingnya mengatasi masalah inflasi, maka perlu penanganan yang serius dalam pengerjaannya. Untuk mengatasi hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui penyebab terjadinya inflasi agar jalan untuk mengatasinya dapat diketahui. Beberapa ahli ekonomi sepakat bahwa inflasi tidak hanya berhubungan dengan jumlah uang yang beredar, akan tetapi juga berhubungan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia di masyarakat. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah inflasi dibutuhkan kebijakan yang tepat. Kebijakan yang bisa diambil untuk mengatasi masalah inflasi ada tiga yaitu kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan lainnya.
1)      Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah segala bentuk kebijakan yang diambil pemerintah di bidang moneter (keuangan) yang tujuannya untuk menjaga kestabilan moneter agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan moneter meliputi.
a.      Kebijakan Penetapan Persediaan Kas
Bank sentral dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi uang yang beredar dengan jalan menetapkan persediaan uang yang beredar dan menetapkan persediaan uang kas pada bank-bank. Dengan mengurangi jumlah uang beredar, inflasi dapat ditekan.
b.      Kebijakan Diskonto
Untuk mengatasi inflasi, bank sentral dapat menerapkan kebijakan diskonto dengan cara meningkatkan nilai suku bunga. Tujuannya adalah agar masyarakat terdorong untuk menabung. Dengan demikian, diharapkan jumlah uang yang beredar dapat berkurang sehingga tingkat inflasi dapat ditekan.
c.       Kebijakan Operasi Pasar Terbuka
Melalui kebijakan ini, bank sentral dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual surat-surat berharga, misalnya Surat Utang Negara (SUN). Semakin banyak jumlah surat-surat berharga yang terjual, jumlah uang beredar akan berkurang sehingga dapat mengurangi tingkat inflasi.
2)      Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal adalah langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan itu dapat memengaruhi tingkat inflasi. Kebijakan fiskal antara lain sebagai berikut.
a.      Menghemat Pengeluaran Pemerintah
Pemerintah dapat menekan inflasi dengan cara mengurangi pengeluaran, sehingga permintaan akan barang dan jasa berkurang yang pada akhirnya dapat menurunkan harga.
b.      Menaikkan Tarif Pajak
Untuk menekan inflasi, pemerintah dapat menaikkan tarif pajak. Naiknya tarif pajak untuk rumah tangga dan perusahaan akan mengurangi tingkat konsumsi. Pengurangan tingkat konsumsi dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, sehingga harga dapat turun.
3)      Kebijakan Lainnya
Untuk memperbaiki dampak yang diakibatkan inflasi, pemerintah menerapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Tetapi selain kebijakan moneter dan fiskal, pemerintah masih mempunyai cara lain. Cara lain dalam mengendalikan inflasi adalah sebagai berikut.
a.      Meningkatkan Produksi & Menambah Jumlah Barang di Pasar
Untuk menambah jumlah barang, pemerintah dapat mengeluarkan perintah untuk meningkatkan produksi. Hal itu dapat ditempuh dengan memberi premi atau subsidi pada perusahaan yang dapat memenuhi target tertentu. Selain itu, untuk menambah jumlah barang yang beredar, pemerintah juga dapat melonggarkan keran impor. Misalnya, dengan menurunkan bea masuk barang impor.
b.      Menetapkan Harga Maksimum untuk Beberapa Jenis Barang
Penetapan harga tersebut akan mengendalikan harga yang ada sehingga inflasi dapat dikendalikan. Tetapi penetapan itu harus realistis. Kalau penetapan itu tidak realistis, dapat berakibat terjadi pasar gelap (black market).[7]
c.       Dampak inflasi
Inflasi pada umumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan dalam perekonomian. Akan tetapi, sebagaimana dalam salah satu prinsip ekonomi bahwa dalam jangka pendek ada trade off antara inflasi dan pengangguran menunjukkan bahwa inflasi dapat menurunkan tingkat pengangguran, atau inflasi dapat dijadikan salah satu cara untuk menyeimbangkan perekonomian negara, dan sebagainya.
Dampak negatif inflasi dipasaran, produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan harga pasar, sehingga harga akan terus meningkat. Bila harga barang secara umum naik secara terus-menerus, maka masyarakat akan panik, sehingga perekonomian tidak berjalan normal, karena disatu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang kemudian memborong barang, sementara yang kekurangan uang tidak bisa membeli barang, akibatnya negara rentan terhadap segala macam kekacauan yang ditimbulkannya. Sebagai akibat dari kepanikan tersebut, maka masyarakat cenderung untuk menarik tabungan guna untuk membeli dan menumpuk barang sehingga banyak bank di rush, akibatnya bank kekurangan dana dan berpotensial tutup atau bangkrut, atau rendahnya dana investasi yang tersedia. Namun, jika inflasi terjadi secara berkepanjangan, maka produsen banyak yang akan mengalami kebangkrutan karena produknya yang relatif mahal sehingga tidak ada yang akan mampu membeli. Pendistribusian barang juga akan relatif tidak adil karena adanya penumpukan dan konsentrasi produk pada daerah yang masyarakatnya dekat dengan sumber produksi dan yang masyarakatnya memiliki banyak uang. Hasilnya, jurang kemiskinan dan kekayaan masyarakat semakin nyata dan mengarah pada sentimen dan kecemburuan ekonomi yang dapat berakhir pada penjarahan dan perampasan. Sedangkan dampak positifnya, inflasi lebih menguntungkan bagi pengusaha barang-barang mewah (high end) yang mana barangnya lebih laku pada saat harganya semakin tinggi (masalah prestise). Produksi barang-barang bertambah, karena keuntungan pengusaha bertambah. Kesempatan kerja akan bertambah, karena terjadi tambahan investasi hal ini terjadi karena perusahaan memproduksi dan mengedarkan barang lebih banyak. Masyarakat juga akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, produksi akan diusahakan seefisien mungkin  dan konsumtifisme dapat ditekan dan kesadaran untuk menabung masyarakat akan meningkat karena masyarakat akan lebih menghargai uang yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhannya.[8]
2.      Peran BI dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi
Untuk mengatasi inflasi, peran bank sentral dalam suatu negaralah yang merupakan kunci dalam menstabilkan ekonomi. Indonesia pernah mengalami kemerosotan ekonomi moneter pada tahun 1997-1998 ketika itu merupakan masa yang paling sulit yang pernah dialami oleh Indonesia karena ketidakstabilan dan pengangguran yang terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat. Peran Bank Indonesia sebagai bank sentral-lah yang dapat membalikkan keadaan seperti sebelum krisis ekonomi. Pemerintah menjaga inflasi agar tetap stabil melalui kebijakan moneter. Mekanisme pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia dilakukan melalui pengendalian jumlah uang beredar dengan menetapkan tingkat suku bunga. Misalnya, pemerintah ingin menurunkan permintaan agregat, hal ini dilakukan dengan menaikkan dengan menaikkan tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga naik, maka opportunity cost untuk memegang uang tinggi, akibatnya masyarakat cenderung menyimpan uangnya di bank. Dengan demikian, konsumsi akan turun, permintaan agregat pun turun, dan inflasi dapat dikendalikan.[9]
Kestabilan nilai rupiah tercermin dari tingkat inflasi dan nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya harga-harga barang secara umum.  Dalam hal ini, Bank Indonesia hanya mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi takaran inflasi yang berasal dari sisi permintaan, sedangkan tekanan inflasi dari sisi penawaran (bencana alam, musim kemarau, distribusi tidak lancar, dll) sepenuhnya berada diluar pengendalian Bank Indonesia. Untuk menjaga dan mencapai tingkat inflasi yang rendah dan stabil, diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari seluruh pelaku ekonomi baik pemerintah maupun swasta. Selanjutnya nilai tukar rupiah sepenuhnya ditetapkan oleh kekuatan pemerintah dan penawaran yang terjadi di pasar. Apa yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai rupiah tidak terlalu berfluktuasi secara tajam. Dalam perannya menjaga kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia selalu melakukan assessment terhadap perkembangan perekonomian, khususnya terhadap kemungkinan tekanan inflasi. Selanjutnya respon kebijakan moneter didasarkan pada hasil assessment tersebut. Namun, pengendalian inflasi tidak bisa hanya dilakukan melalui kebijakan moneter saja, melainkan juga kebijakan ekonomi makro lainnya seperti kebijakan fiskal dan kebijakan disektor riil.
Untuk mencapai sasaran tingkat inflasi yang rendah, Bank Indonesia menggunakan beberapa strategi, yaitu mengkaji efektifitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir kebijakan moneter, mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi, dan memformulasikan respon kebijakan moneter. Dapat ditambahkan bahwa laju inflasi yang diperoleh dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai sasaran akhir  dan laju inflasi inti (core atau underlying inflation) sebagai sasaran operasional.[10]
Pencapaian sasaran inflasi juga memerlukan kerjasama dan koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia melalui kebijakan makro ekonomi yang terintegritasi baik dari kebijakan fiskal, moneter maupun sektoral. Dalam tataran teknis, koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia telah diwujudkan dengan membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) ditingkat pusat. Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008 pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil, yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan.[11] Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan untuk menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan.

C.    Penutup
Perekonomian yang tidak stabil menimbulkan biaya yang tinggi bagi perekonomian dan masyarakat. Ketidakstabilan akan menyulitkan masyarakat, baik swasta maupun rumah tangga, untuk menyusun rencana ke depan, khususnya dalam jangka lebih panjang yang dibutuhkan bagi investasi. Tingkat investasi yang rendah akan menurunkan potensi pertumbuhan ekonomi panjang. Adanya fluktuasi yang tinggi dalam pertumbuhan keluaran produksi akan mengurangi tingkat keahlian tenaga kerja yang lama menganggur. Inflasi yang tinggi dan fluktuasi yang tinggi menimbulkan biaya yang sangat besar kepada masyarakat. Beban terberat akibat inflasi yang tinggi akan dirasakan oleh penduduk miskin yang mengalami penurunan daya beli. Inflasi yang berfluktuasi tinggi menyulitkan pembedaan pergerakan harga yang disebabkan oleh perubahan permintaan atau penawaran barang dan jasa dari kenaikan umum harga-harga yang disebabkan oleh permintaan yang berlebih. Akibatnya terjadi alokasi inefisiensi sumber daya. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, Pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian.


DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. “Inflasi”, diakses dari https://www.bps.go.id/subject/3/inflasi.html pada tanggal 29 Agustus 2019
Bank Indonesia. “Pengenalan Inflasi”, diakses dari https://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengnalan/contenst/depaults.aspx pada tanggal 29 Agustus 2019
Biro Hubungan Masyarakat, BI. Peran BI Dalam Pengendalian Inflasi. (Jakarta: 2003)
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Pengukuran Inflasi Inti (Core Inflation) Di Indonesia. 2016.
Dina Amalia, Jurnal Bisnis: 3 Cara Mengatasi Inflasi dengan Kebijakan yang Tepat https://www.jurnal.id/id/blog/2017-3-cara-mengatasi-inflasi-dengan-kebijakan-yang-tepat/ 15 Oktober 2017
Fauzi Aziz, Harian Ekonomi Neraca: Stabilitas Dan Pertumbuhan Ekonomi http://neraca.co.id/article/109260/stabilitas-dan-pertumbuhan-ekonomi Kamis 22 Nopember 2018
Gerai Info Bank Indonesia. Benang Merah 2015 edisi 57 . Juni 2015
Hendra Friana, Tujuh Langkah BI dalam Menjaga Inflasi & Stabilitas Rupiah di 2019 https://tirto.id/tujuh-langkah-bi-dalam-menjaga-inflasi-stabilitas-rupiah-di-2019-daw7 28 November 2018
Iskandar Putong. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003)
Meita Nova Yanti. Jurnal Ekonomi Bisnis: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inflasi Di Indonesia. Vol. 21 No. 3. (Depok: Universitas Gunadarma, 2016)
Nazly Dayanty Nasution, Peran Bank Indonesia (Bi) Dalam Menstabilkanperekonomian Indonesia Melalui Pengendalian Inflasi. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. 2018
Witdya Pangestika Penyebab & Strategi Perusahaan Menghadapi Inflasi https://www.jurnal.id/id/blog/2018-bagaimana-strategi-perusahaan-untuk-menghadapi-inflasi/  23 Oktober 2018




[1]Bank Indonesia. “Pengenalan Inflasi”, diakses dari https://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengnalan/contenst/depaults.aspx pada tanggal 29 Agustus 2019

[2]Badan Pusat Statistik. “Inflasi”, diakses dari https://www.bps.go.id/subject/3/inflasi.html pada tanggal 29 Agustus 2019
[3]Meita Nova Yanti. Jurnal Ekonomi Bisnis: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inflasi Di Indonesia. Vol. 21 No. 3. (Depok: Universitas Gunadarma, 2016) 
[4]Ani Rahmani. “Faktor Penyebab Terjadinya Inflasi”. Diakses dari https://www.jurnal.id/id/blog/2017/faktor-penyebab-terjadinya-inflasi/ pada tanggal 29 Agustus 2019

[5]Bank Indonesia. “Disagregasi Inflasi”, https://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengenalan/contenst/disagregasi.asp  pada tanggal 29 Agustus 2019

[6]Hendra Friana, Tujuh Langkah BI dalam Menjaga Inflasi & Stabilitas Rupiah di 2019 https://tirto.id/tujuh-langkah-bi-dalam-menjaga-inflasi-stabilitas-rupiah-di-2019-daw7 diakses pada tanggal 30 Agustus 2019 pukul 20:52
[7]Dina Amalia, Jurnal Bisnis: 3 Cara Mengatasi Inflasi dengan Kebijakan yang Tepat https://www.jurnal.id/id/blog/2017-3-cara-mengatasi-inflasi-dengan-kebijakan-yang-tepat/ diakses pada 29 Agustus 2019 pukul 21:04
[8]Iskandar Putong. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003)
[9]Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Pengukuran Inflasi Inti (Core Inflation) Di Indonesia. 2016.

[10] Biro Hubungan Masyarakat, BI. Peran BI Dalam Pengendalian Inflasi. (Jakarta: 2003)
[11] Gerai Info Bank Indonesia. Benang Merah 2015 edisi 57 . Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar