Generasi Baru Indonesia Tegal

Kamis, 05 September 2019

MINGGON JATINAN: WISATA HALAL BERBASIS KULINER TRADISIONAL SEBAGAI STRATEGI BARU PARIWISATA HALAL INDONESIA



MINGGON JATINAN: WISATA HALAL BERBASIS KULINER TRADISIONAL SEBAGAI STRATEGI BARU PARIWISATA HALAL INDONESIA

IMARO SIDQI
IAIN PEKALONGAN

Pariwisata adalah salah satu sektor unggulan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan nasional Indonesia. Arief Yahya selaku menteri Pariwisata Republik Indonesia menjelaskan bahwa sektor pariwisata pada tahun 2015 mencapai 4% dengan devisa Rp 155 triliun, penciptaan lapangan kerja 11,3 juta orang; pada tahun 2016 mampu berkonstribusi 5% dengan devisa Rp 172 triliun, penciptaan lapangan kerja 11,7 juta orang, serta kunjungan wisatawan mencanegara sebanyak 12 juta orang; Pada tahun 2019 diharuskan dapat berkontribusi pada PDB nasional sebesar 8% dengan besaran devisa Rp 240 triliun, penciptaan lapangan kerja untuk 13 juta orang, dan kunjungan wisatawan mencanegara sebanyak 20 juta wisman. Data tersebut menjadi bukti bahwa optimisme pembangunan di sektor pariwisata begitu besar.
Seiring dengan perkembangan zaman di dunia, menandakan bahwa technological sophistication (kecanggian teknologi) sudah berlaku umum dalam pandangan masyarakat. Namun diluar itu, dunia kepariwisataan juga menjadi sorotan oleh banyak orang. Tren yang saat ini menjadi sorotannya yaitu pariwisata halal (halal tourism) menjadi sebuah perbincangan dan program yang diseriusi oleh sejumlah Negara. Tren ini, dapat mempengaruhi kesadaran masyarakat bahwa pada nantinya wisata halal tersebut bisa menjadi potensi yang sangat besar terhadap produk halal yang terus meningkat, dengan menggabungkan konsep wisata dan nilai-nilai ke-Islaman.

 Begitu besar kebutuhan produk dan jasa halal di Dunia maupun di Indonesia, sementara kebutuhan produk halal tidak hanya terbatas pada sektor industri makanan, ekonomi, fashion, keuangan, pendidikan dan seni saja. Wisata halal menjadi jawaban yang diyakinkan dapat mengembangkan peradaban perkonomian di Indonesia. Walaupun, Saat ini Indonesia masih tertinggal jauh dengan beberapa Negara tetangga, sebagaimana contoh Malaysia yang sudah puluhan tahun lalu menerapkan jaminan halal. Akan tetapi, lambat laun perkembangan industri halal di Indonesia terus meningkat. Di sektor wisata halal, Indonesia berhasil merebut tiga gelar dalam World’s Best Halal di Abu Dabhi, Uni Emirat Arab, Oktober 2015 lalu. Lalu potensi tersebut berkolaborasi dengan banyaknya penduduk muslim di Indonesia yang menjadi mayoritas hingga termasuk negara berkategori muslim terbesar di dunia dengan jumlah 209,1 juta jiwa atau 87,2% (BPS, 2016). Kedua potensi ini menjadi peluang kemajuan perekonomian di Indonesia.
Wisata halal merupakan wisata budaya yang mengedepankan nilai-nilai dan norma syariat Islam sebagai landasan dasarnya. Sebagai terobosan baru industri wisata halal ini harus mempunyai cover dan konsep dalam pengembangan hingga pelaksanannya secara komprehensif terkait kolaborasi nilai-niai ke-Islaman yang disematkan di dalam kegiatan pariwisata. Wisatawan muslim merupakan wisatawan terbesar di Indonesia, konsep wisata ini menjadi jawaban akan besarnya untapped market yang belum tersentuh dengan maksimal. Maka dengan ini, Indonesia bisa menjadi ladang pariwisata terbesar atau terlaris di Dunia, sehingga dengan ini dapat memberikan konstribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi pelaku yang terlibat didalamnya.
Konsep wisata halal merupakan proses pengintegrasian antara nilai-nilai ke-Islaman dengan seluruh aktivitas dalam kegiatan pariwisata. Nilai-nilai dasar ke-Islaman suatu kepercayaan dan keyakinan umat Islam untuk melaksanakan kegiatan kepariwisataan. Wisata halal mempertimbangkan seluruh kegiatan ataupun aktivitas dalam pariwisata, diantaranya akomodasi, restaurant, hingga aktivitas kegiatan lain yang menjadi lingkupnya. Konsep wisata halal tidak terlepas dari halal atau haram, sehingga untuk sertifikasi halal dijadikan tumpuan utama untuk melihatnya. Karena pada realitanya seseorang akan melihat sebuah produk dari labelnya yang sudah tersertifikasi, untuk membedakan antara produk yang halal dan haram. Maka dari itu, konsep wisata halal di Indonesia diyakini akan menonjol sangat tinggi konstibusinya dalam perekenomian.
Beriringan dengan kebijakan pemerintah, program wisata halal di Indonesia sedang giat dilaksanakan diberbagai daerah. Salah satunya yaitu terdapat pada Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah mempunyai program bernama Minggon Jatinan. Minggon Jatinan merupakan produk wisata pada hari minggu yang kemasannya menampilkan kuliner tradisional khas Batang yang langka dan suasana sejuk hutan kota yang konsepnya ditata sebagai destinasi wisata halal (halal tourism). Menariknya, wisata tersebut terdapat 27 varian jajanan produksi usaha kecil menengah, di antaranya pecel-pecelan, godog-godogan, jamu, kopi, nasi liwet sangit, nasi jagung sampai serabi kalibeluk. Semuanya disajikan di atas bale bambu atau lincak, kreweng (alat tukar untuk digunakan untuk jual beli) dan mempetahankan bahan-bahan baku yang alami. Tak hanya itu, pasar Minggon Jatinan juga menyajikan “Kampung Dolanan’’ dengan beragam permainan tradisional yang mengedukasi seperti egrang, bakiak dan ekuan yaitu perlombaan memakai saling, baju dan kain sarung kemudian berlari secepat mungkin yang membuat banyak pengunjung penasaran untuk mencobanya. Wihaji selaku Bupati Batang mengatakan, Minggon Jatinan merupakan salah satu program untuk mendukung Visit to Batang pada tahun 2022 sebagai surganya Asia untuk back to nature (kembali ke alam) artinya bahwa wisata ini menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat untuk menikmati wisata yang bernuansa tradisional berkolaborasi dengan alam. Hal ini, merupakan sebuah konsep wisata halal yang menjadi peluang dan inspirasi untuk diteruskan oleh beberapa daerah-daerah yang mempunyai ciri khas atau keunikan tersendiri.
Berbicara mengenai wisata Minggon Jatinan juga berbicara mengenai pluralitas keragaman yang dimiliki Indonesia. Karena sejatinya wisata tersebut mengandalkan berbagai macam makanan, pemandangan, hingga permainan anak kecil khas Batang. Hal ini tentunya menjadi salah satu prospek wisata yang akan berpotensi a favorite travel by the world (wisata yang digemari oleh dunia) dan juga dapat menjadi the most unique tourist attraction in the world (wisata paling unik di dunia) menjadi sebuah terobosan baru pariwisata di Indonesia. Minggon Jatinan ini sudah menjadi banyak pembicaraan oleh publik, namun perlu adanya sebuah pengembangan menajemen, pemasaran, sosialisasi hingga bersertifikasi agar mudah untuk dikembangkan kedepannya. Wisata ini dapat menjadi sebuah proyek besar oleh pemerintah Kabupaten Batang sebagai wisata unik yang diintegrasikan secara tradisional  berkonsep halal tourism.
Solusi pengembangan, yang pertama, menyosialisakan secara terbuka dengan pemerintah pusat untuk dikembangkan menjadi wisata basis tradisional yang modern dengan mempublikasikan dengan bekerjasama bersama media-media, sehingga dapat diketahui banyak orang agar dapat menjadi acuan masyarakat dalam kebutuhan pangan maupun hiburan dan dapat menjadi inspirasi dari daerah-daerah lainnya untuk dapat mengembangkan dalam lingkup yang sama. Kedua, mengesahkan label halal dengan bersertifikat MUI bahwa produk yang disajikan benar-benar berkualitas dan tidak bertentangan dengan norma-norma dalam ajaran Islam. Solusi ini setidaknya disertai dengan niat dan kerja keras oleh masyarakat agar dapat meningkatkan peluang berbisnis dalam dunia pariwisata. Minggon Jatinan ini menjadi sebuah rekomendasi yang dapat memunculkan kader-kader baru dari daerah-daerah tetangga hingga daerah yang jauh.


DAFTAR PUSTAKA

Chookaew, S., Chanin, O., Charatarawat, J., Sriprasert, P., & Nimpaya, S. (2015). Increasing halal tourism potential at Andaman Gulf in Thailand for Muslim country. Journal of Economics, Business and Management3(7), 739-741.

Darwis, R. (2017). INVENTARISASI KHAZANAH KULINER TRADISIONAL DESA PAKUWON KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN KAMPUNG WISATA HALAL. Tourism Scientific Journal2(2), 234-259

Tourism Review, 2013, April 01. Retrieved April 30, 2015, from tourims-review: http://www.tourism-review.com/Indonesia-launches-sharia-tourism-projects-news3638.

Widagdyo, K. G. (2015). Analisis pasar pariwisata halal indonesia. Tauhidinomics1(1), 73



Tidak ada komentar:

Posting Komentar