Generasi Baru Indonesia Tegal

Jumat, 06 September 2019

KEBIJAKAN BANK SENTRAL DALAM MENJAGA STABILITAS MONETER



KEBIJAKAN BANK SENTRAL DALAM MENJAGA STABILITAS MONETER
Iffah Mufida
GenBI Tegal

ABSTRAK
            Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi yang digunakan Bank Indonesia  sebagai otoritas moneter untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian pada  kondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan mengatur jumlah uang yang beredar  (JUB) dan tingkat suku bunga. Tolak ukur stabilitas moneter diantaranya laju inflasi, suku bunga, nilai tukar mata uang, dan ekspektasi masyarakat. Kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Sentral dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi diantara berupa kebijakan kuantitatif dan kebijakan kualitatif. Kebijakan kuantitatif meliputi open market operation, reserve requirement, dan the discount rate. Kebijakan kualitatif meliputi selective credit dan moral suation.


A.    PENDAHULUAN
     Menurut Mankiw, salah satu variabel tolok ukur kemajuan suatu negara adalah  pertumbuhan perekonomian. Jika perekonomian suatu negara stabil maka dapat  dikatakan negara tersebut maju. Sebaliknya, jika keadaan perekonomian suatu negara  terpuruk maka negara tersebut belum dapat dikatakan sebagai negara maju. Untuk  mendukung pertumbuhan ekonomi, maka kegiatan perekonomian suatu negara harus meningkat setiap tahunnya.[1]
Indonesia merupakan negara berkembang dimana masih banyak persoalan ekonomi yang harus segera ditangani seperti masalah kecenderungan kenaikan harga-harga barang dan jasa (inflasi).
Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dapat mendorong peningkatan harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalamjangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila apabila peningkatan jumlah uang yang beredarsangat rendah, maka kelesuan ekonomi akan terjadi. Apabila hal ini berlangsung terus-menerus, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan pada gilirannya akan mengalami penurunan. Kondisi demikian menjadi salah satu yang melatar belakangi upaya-upaya yang dilakukan pemerintah atau otoritas moneter suatu negara dalam mengendalikan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Kegiatan mengendalikan sejumlah uang ini yang disebut dengan kebijakan moneter.[2]
Oleh sebab itu, dibentuknya Bank Sentral yaitu Bank Indonesia sebagai otoritas moneter bertujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.[3]

B.     PEMBAHASAN
1.      Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan ekonomi yang digunakan Bank Indonesia  sebagai otoritas moneter untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian pada  kondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan mengatur jumlah uang yang beredar  (JUB) dan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter tujuan utamanya adalah mengendalikan jumlah uang yang beredar (JUB).[4]
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Menurut Rhardja, kebijakan moneter dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:[5]
1.      Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy)
     Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.  Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya  beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy).
2.      Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy)
     Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Kebijakan moneter ini disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy)
Pemerintah menggunakan kebijakan moneter sebagai pengendali inflasi,    yaitu stabilisasi harga. Oleh karena itu dibutuhkan adanya mekanisme tranasmisi kebijakan moneter beserta instrumen-instrumen yang  digunakan.[6] Instrumen-instrumen kebijakan moneter tersebut antara lain:[7]
a.       Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
b.      Fasilitas Diskonto (Discounto Rate)
c.       Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
d.      Imbauan Moral (Moral Persuation)

2.      Stabilitas Moneter
Stabilitas moneter (monetary stability) didefinisikan sebagai setabilitas harga  dimana perekonomian mengalami inflasi dalam jumlah yang relatif kecil yaitu 1-2%  setahun. Deflasi juga ancaman terhadap stabilitas moneter namun karena isu deflasi  sangat jarang terjadi maka kurang menjadi perhatian. Tugas Bank Indonesia yaitu  menjaga stabilitas nilai rupiah maka secara singkat  merupakan  upaya  mengurangi  infl asi menjadi  dasar  bagi  pertumbuhan  ekonomi  jangka panjang yang berkelanjutan (sustainable economic growth). Pertumbuhan ekonomi menjadi isu global dan  nasional  saat  ini  secara  politik  penentu  selalu menjalankan  pertumbuhan  ekonomi  sebagai  bukti keberhasilan dalam pembangunan.[8]
Kebijakan Bank Sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter dilakukan untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Perkembangan perekonomian yang diinginkan tersebut antara lain tercermin dari stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi) dan cukup luasnya lapangan atau kesempatan kerja yang tersedia.[9]
Tolak ukur stabilitas moneter diantaranya laju inflasi, suku bunga, nilai tukar mata uang, dan ekspektasi masyarakat. Tolak ukur stabilitas moneter yang dilihat dari inflasi mendorong Bank Indonesia untuk melakukan kebijakan sebagai otoritas moneter dengan menaikan tingkat suku bunga, agar minat masyarakat untuk menabung tinggi, sehingga kondisi di sektor akan stabil dan tidak terjadi efek kenaikan harga yang tinggi. Kenaikan harga tinggi menyebabkan daya beli akan rendah dan tidak  bergairahnya  sektor  riil  sehingga  perlu  dilakukan  stabilisasi  dengan  menaikan  tingkat suku bunga. Selain menjaga suku bunga, Bank Indonesia perlu menstabilkan dari sisi perubahan nilai tukar rupiah, agar tetap menjaga kestabilan harga-harga di dalam negeri dan faktor penarik bagi luar negeri. Memang ada kalanya nilai tukar rupiah yang rendah, dapat menarik dari sisi daya beli luar negeri dan memberikan dampak positif dalam pembangunan.[10]

3.      Peran Bank Sentral Melalui Kebijakan Moneter
Bank Sentral adalah lembaga yang melaksanakan pengendalian moneter  dengan melakukan serangkaian kebijakan moneter. Yang dimaksud dengan kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah dalam mengatur jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter bertujuan untuk mengawasi dan mempengaruhi kestabilan, kegiatan dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Sentral berupa kebijakan kuantitatif dan kualitatif.[11]
1.      Kebijakan Kuantitatif
a.    Open Market Operation (menjual atau membeli surat berharga)
Bank Sentral melakukan jual beli surat-surat berharga untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Jika terjadi kelebihan uang beredar, Bank Sentral mengambil kebijakan moneter dengan menjual SBI  (Sertifikat Bank  Indonesia), sehingga sebagian uang masyarakat yang beredar dapat ditarik.  Sebaliknya, bila perekonomian kekurangan jumlah uang beredar, untuk  mendorong perekonomian pemerintah membeli SBI. Dalam penerapannya dapat disebutkan:
Menjual SBI ---------- JUB berkurang
Membeli SBI --------- JUB bertambah
b.    Reserve Requirement (mempengaruhi cadangan minimum)
   Bank Indonesia menetapkan dana cadangan tetap bank umum pada  Bank Indonesia. Bank Indonesia dapat membuat perubahan atas tingkat cadangan minimum yang harus disimpan  bank  umum.  Seandainya  Bank  Sentral mengganggap bahwa jumlah uang beredar sudah terlalu banyak, bank umum telah berlebihan dalam menyalurkan kreditnya maka bank sentral dapat  menaikan cadangan wajibnya, demikian pula sebaliknya. Dengan adanya kenaikan cadangan wajib, akan mengurangi ekspansi kredit.
            Cadangan minimum naik ----------------- JUB berkurang
            Cadangan minimum turun --------------- JUB bertambah
c.    The Discount Rate (mempengaruhi tingkat bunga diskonto)
Bank Indonesia dapat merubah, menaikan atau menurunkan suku bunga  untuk mempengaruhi peredaran uang. Bila permintaan uang meningkat, Bank  Indonesia menaikan tingkat suku bunga pinjaman yang berakibat mengurangi permintaan kredit dan memperbesar juga uang beredar dan sebaliknya.
            Tingkat diskonto naik -------------------- JUB berkurang
            Tingkat diskonto turun ------------------ JUB bertambah
2.      Kebijakan Kualitatif
a.       Selective Credit Control (Pengawsan terhadap kredit)
Pemberian kredit pada sektor produktif. Yang diawasi adalah corak pinjaman dan bentuk investasi yang dilakukan Bank Umum.
b.      Moral Suasion
Bank Sentral dapat melakukan himbauan menggunakan tulisan atau lisan berupa ajakan untuk melakukan atau tidak suatu tindakan tertentu. Misalnya,  Bank Indonesia mengajak bank-bank nasional maupun Bank Asing  mengusahakan  penurunan  tingkat bunga.

Dengan perlambatan kondisi perekonomian Indonesia yang juga selaras dengan perlambatan dari perekonomian Tiongkok mengakibatkan Bank Indonesia memerlukan beberapa hal dari kebijakan kuantitatif yaitu membeli SBI, cadangan minimum turun  dan tingkat diskonto turun sehingga bisa menambah jumlah uang beredar, agar dapat meningkatkan semangat bagi sektor riil dalam meningkatkan usaha sekaligus untuk menstabilkan perekonomian. Namun untuk kebijakan moneter kualitatif harus memperhatikan corak pinjaman yang dikucurkan secara selectif sehingga tidak terjadi  kredit macet dan diperlukan suatu moral suasion secara khusus bagi bank umum lainnya dalam hal memberian kredit selektif sekaligus mampu menurunkan suku bunga secara menyeluruh.[12]

C.    PENUTUP
     Bank Indonesia sebagai otoritas moneter mempunyai peran penting dalam menjaga kestabilan ekonomi. Melalui kebijakan moneter, Bank Sentral mengatur jumlah uang yang beredar dan tingkat suku bunga. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar terciptanya perkembangan perekonomian yang diinginkan, antara lain tercermin dari stabilitas harga (rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi) dan cukup luasnya lapangan atau kesempatan kerja yang tersedia.

DAFTAR PUSTAKA
Fauziyah, F. (2015). Kebijakan Moneter dalam Mengatasi Inflasi di Indonesia. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 4(1).
Latifah, N. A. (2015). Kebijakan Moneter dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(2), 124-134.
Machtra, C., & Fakhruddin, F. (2016). Analisis Efek Kebijakan Moneter Terhadap Output di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik Indonesia, 3(1), 11-25.
Putra, M. U. M. (2015). Peran dan Kebijakan Moneter Terhadap Perekonomian Sumatera Utara. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil: JWEM, 5(1), 41-50.
Solikin, Perry Warjiyo. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI.
Sriyono, S. (2016). Strategi Kebijakan Moneter di Indonesia. JKMP (Jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik), 1(2), 111-130.
Suhartono, S. (2009). Peran Bank Sentral Dalam Stabilitas Sistem Keuangan (Ssk) Dan Implementasi Jaring Pengaman Sektor Keuangan (Jpsk). Jurnal Keuangan dan Perbankan, 13(3).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.


                [1] Machtra, C., & Fakhruddin, F. (2016). Analisis Efek Kebijakan Moneter Terhadap Output di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik Indonesia, 3(1), 11-25, hlm. 12.
                [2] Perry Warjiyo Solikin, Kebijakan Moneter di Indonesia, (Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2003), hlm. 1.
                [3] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia.
                [4] Sriyono, S. (2016). Strategi Kebijakan Moneter di Indonesia. JKMP (Jurnal Kebijakan dan Manajemen Publik), 1(2), 111-130, hlm. 114.
                [5] Latifah, N. A. (2015). Kebijakan Moneter dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(2), 124-134, hlm. 2.
                [6] Fauziyah, F. (2015). Kebijakan Moneter dalam Mengatasi Inflasi di Indonesia. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 4(1), hlm. 2.
                [7] Latifah, N. A. (2015). Kebijakan Moneter dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(2), 124-134, hlm. 4-9.
                [8] Suhartono, S. (2009). Peran Bank Sentral Dalam Stabilitas Sistem Keuangan (Ssk) Dan Implementasi Jaring Pengaman Sektor Keuangan (Jpsk). Jurnal Keuangan dan Perbankan, 13(3), hlm. 522.
                [9] Perry Warjiyo Solikin, Kebijakan Moneter di Indonesia, (Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2003), hlm. 2.
                [10] Putra, M. U. M. (2015). Peran dan Kebijakan Moneter Terhadap Perekonomian Sumatera Utara. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil: JWEM, 5(1), 41-50, hlm. 42.
                [11] Putra, M. U. M. (2015). Peran dan Kebijakan Moneter Terhadap Perekonomian Sumatera Utara. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil: JWEM, 5(1), 41-50, hlm. 44- 45.
                [12] Putra, M. U. M. (2015). Peran dan Kebijakan Moneter Terhadap Perekonomian Sumatera Utara. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil: JWEM, 5(1), 41-50, hlm. 45.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar