Generasi Baru Indonesia Tegal

Kamis, 05 September 2019

INFLASI RAMADHAN – SYAWAL : SEBAB DAN PENGARUHNYA



INFLASI RAMADHAN – SYAWAL : SEBAB DAN PENGARUHNYA

INFLASI RAMADHAN – SYAWAL : SEBAB DAN PENGARUHNYA
Oleh
JANATUL FIRDA
A.  Latar Belakang
       Kebutuhan yang begitu banyak, keinginan serta gaya hidup tren membuat manusia menjadi konsumtif, membeli barang atau jasa berdasarkan keinginan bukan semata – mata untuk memenuhi kebutuhan hajat mereka, namun cenderung memenuhi hasrat nafsu pribadi masing-masing. Tidak dipungkiri jika di Indonesia yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam mengkonsumsi komoditas dengan jumlah banyak pada bulan ramadhan dan syawal. Bagi mereka hari raya Idhul Fitri merupakan hari kemenangan bagi yang telah melaksanakan puasa pada bulan ramadhan selama satu bulan full. Mengkonsumsi komoditas dengan jumlah banyak pada bulan Ramadhan dan syawal sudah menjadi adat tersendiri, akibatnya jumlah permintaan semakin banyak, penawaran pun juga banyak, seringkali produsen kewalahan dalam memenuhi permintaan konsumen yang semakin banyakanya, yang mengakibatkan terjadinya inflasi.
       Inflasi yang terjadi pada bulan ramadhan dan sepuluh hari setelah ramadhan atau sepuluh pertama bulan syawal, merupakan inflasi yang setiap tahunya pasti terjadi, inflasi yang sudah menjadi langganan, faktor dasar yang memicu terjadinya hal tersebut adalah adanya budaya konsumtif yang merupakan cara masyarakat merayakan hari kemenangan, inflasi memang sering terjadi di neegara-negara berkembang seperti Indonesia, karena negara yang masih berkembang adalah negara yang rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi. Pada bulan ramadhan dan syawal, pada bulan tersebut merupakan bulan yang tingkat uang beredarnya banyak, terjadi pembagian uang Tunjangan Hari Raya, pemberian hadiah atau uang pesangon hari raya, dan di bulan tersebut juga banyak masyarakat yang mengeluarkan zakatnya, sehingg uang yang beredarpun menjadi berlipat-lipat  dari jumla biasanya.

       Memang benar jika inflasi meningkat maka tingkat pendapatan masyarakat juga meningkat, sehingga jumlah permintaan juga bertambah, perusahaan pun produktif, selebihnya nilai tukar rupiah menjadi menurun, pasar saham, neraca perdagangan terkena dampaknya, akibatnya negara ini akan mengalami penurunan pendapat negara karena tergerusnya nilai tukar rupiah. Ketika suatu negara telah mengalami, maka akan mulai bermunculan fenomena-fenomena baru, yang sifatnya positif ataupun negatif, serta pengaruhnya. Pada artikel ini akan disajikan sebab-sebab dan dampak inflasi pada bulan ramadhan-syawal.
B.  Rumusan masalah
 Rumusan masalah pada artikel ini, adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah Inflasi pada bualn Ramadhan-Syawal?
2.      Apa saja sebab terjadinya inflasi ramadhan-syawal?
3.      Bagiamanakah Pengaruh inflasi ramadhan-syawal ?

C.  Inflasi Ramadhan-Syawal
1.      Inflasi Dan Jenisnya
Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barng-barang secara terus menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berarti macam barang itu naik dengan presentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama suatu perioode tertentu. Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun dengan presentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi.          [1]
Inflasi dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu inflasi permintaan, Inflasi penawaran, Inflasi campuran.[2]
a)      Inflasi Permintaan, beberapa istilah dari inflasi permintaan, yaitu : demand-pull inflation, inflasi tarikan permintaan, dan demand inflation. Inflasi ini, adalah inflasi yang disebabkan karena tingkat permintaan tenhadap suatu barng/ jasa secara keseluruhan meningkat. Naiknya permintaan secara agregatif disebakan karena banyaknya uang yang beredar pada rumah tangga, tingginya investasi melebihi tabungan, dll.
b)      Inflasi Penawaran, beberapa istilah dari inflasi penawaran, yaitu : Cost-pust inflation dan supply inflation. Inflasi penawaran adalah inflasi yang disebakan berkurangnya penawaran , seperti perusahaan monopoli dengan produk yang tinggi, yang menyebabkan sulitnya memasuki pasar tersebut. Permintaan kenaikan upah bagi serikat buruh atas kekuatan monopsoninya, maka akan menyebabkan inflasi.
c)      Inflasi campuran, adalah inflasi yang terjadi akibat bergabungya inflasi penawaran, dan inflasi permintaa, atau sering disebut dengan mixed inflasi. Dalam teorinya inflasi campuran diartikan sebagai tarikan permintaan dan dorongan biaya. Tarikan permintaan bererti adanya permintaan yang tinggi, sedangkan dorongan biaya adalah penawaran yang rendah, adanaya 2 hal tersebut dapat mengakibatkan harga menjadi naik.
Inflasi juga dikategorikan berdasarkan sifatnya, terdapata tiga pembagian, yaitu :[3]
a)        Merayap (Creeping Inflation), adalah inflasi yang rendah kurang dari 10 % pertahun, ditandai dengan kecilnya kenaikan harga, dalam jangka waktu yang lama.
b)        Inflasi menengah (Galloping Inflation), adalah inflasi yang cukup besar ( dua kali / tiga kali kenaikan harganya), kadang kadang berjalan pada waktu yang cukup pendek, dan memiliki sifat akselerasi. Yaitu “kenaikan harga pada minggu/bulan ini lebih tinggi dari pada yang lalu, dan memiliki efek  bagi perekonomian yang lebih tinggi di bandingkan inflasi merayap.
c)        Inflasi Tinggi (Hyper Inflation), inflasi yang paling besar diantara kedua inflasi diatas. Biasanya 5 – 6 kali tingkat kenaikan harganya, sebab terjadinya inflasi ini karena pemerintah deficit neraca perdagangan (seperti karena adanya bencana alam, perang, dll) sehingga mengaruskan pemerintah untuk mencetak rupiah.
2.      Inflasi Ramadhan-Syawal
Pada bulan Ramadhan-Syawal terjadi fenomena dimana permintaan akan barang dan jasa meningkat, barang-barang yang dalam konteks ini mengalami peningkatan permintaan adalah bahan panga, sandang, ataupun BBM dan transportasi, dari barang dan jasa tersebut pelopor  terbesaar rentang inflasi bahan pangan, dan BBM. Bahan pangan diantaranya beras, daging-dagingan, dan bumbu-bumbuan (Rappler.com). dan BBM juga demikian, BBM merupakan sumber daya penggerak lalu lintas perekonomian, maka dari itu jika pada sektor ini menglami gejolak akan menyebakan sektor lain juga gejolak. kenaikan permintaan pada bulan ramadhan dan syawal sudah menjadi langganan dari tahun ke tahun dan bahkan sudah menjadi adat tersendiri.
Pada bulan tersebut, mayoritas masyarakat juga memiliki cash in hand yang cukup banyak, karena berbagai macam faktor, seperti cenderung bekerja lebih keras (insentif) sehingga pendapatan yang mereka peroleh juga banyak, dibualan tersebut juga dibagikannya, uang tunjangan (THR), dan pada perbankan juga terdapat simpanan-simpanan pencairannya pada bulan tersebut. Sehingga uang yang beredar semakin banyaak.
Menurut Hendi Kristiantoro, pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Kemenkeu RI, “Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Tentu termasuk di dalamnya pengendalian konsumsi. Namun, fakta berkebalikan. Pertemuan momentum religi dengan tradisi budaya menjadikan Ramadhan hajatan nasional. Gairah “perayaan” menumbuhkan potensi pasar. Permintaan barang dan jasa meningkat. Uang beredar lebih banyak dan cepat. Imbasnya, nilai riil uang merosot. Harga mayoritas barang dan jasa melonjak. Inflasi tak terhindari.” (baca : artikel catatan inflasi oleh kemenkeu.go.id ).
Inflasi Ramadhan-Syawal. Statistik tahun terakhir mengkonfirmasi kebenaran pola tersebut.
·  Pada 2011 dan 2012, inflasi menjelang Ramadhan tercatat 0,67% dan 0,62%. Ketika Ramadhan (Agustus 2011 dan Juli 2012) inflasi melonjak menjadi 0,93% dan 0,70%.
·  Tahun 2013 merupakan pengecualian dimana lonjakan inflasi sangat fantastis dari 1,03% menjadi 3,29% dikarenakan momentum Ramadhan bertemu dengan kenaikan harga BBM yang diputuskan pemerintah sebulan sebelumnya.
·  Pada 2014, inflasi Ramadhan (Juli 2014) sebesar 0,93%, jauh lebih tinggi dari inflasi sebulan sebelumnya yang tercatat 0,43%.
·  Realisasi inflasi Mei 2015, secara bulanan tecatat 0,50%. Sedangkan secara tahunan mencapai 7,15%. Pada Juni 2015, atau hampir dua minggu Ramadhan berjalan, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,54%, sedangkan secara tahunan sebesar 7,26%. Peningkatan tipis ini juga terjadi sepanjang Juli 2015.
Data dari BPS. (baca : artikel catatan inflasi oleh kemenkeu.go.id ).  
·  Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan inflasi bulan puasa dan Lebaran 2017 adalah inflasi bulan puasa dan Lebaran yang terendah sejak 2014. Pada bulan puasa dan Lebaran 2017 yang jatuh pada Mei dan Juni, inflasi masing-masing mencapai 0,39 persen dan 0,69 persen atau berjumlah 1,08 persen.
(baca : Tempo.com).
·  Inflasi Ramadhan-Syawal pada Mei 2018 sebesar 0,21 persen menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
(Baca : Liputan6.com) .
·      Inflasi bulan juni 2019 adalah 2,05 %

Inflasi Ramadhan-Syawal adalah Inflasi tahunan yang selalu ada setiap tahunnya, dan hampir tidak bisa dihindari. inflasi ramadhan syawal merupakan inflasi demand-pull inflation yaitu karena banyaknya permintaan komoditas, dan juga termasuk kedalam Cost-pust inflation, karena pada saat terjadi kenaikan harga-harga komoditas barang. Berkaitan dengan kenaikan penawaran pada saat  Ramadhan-Syawal, namun harga barang tetap naik meskipun penawarannya banyak. Dari segi sifatnya inflasi ramadhan-syawal tergolong inflasi yang rendah, yaitu kurang dari 10 %.
D.  Sebab Inflasi bulan Ramadhan-Syawal
1.      Sebab-sebab inflasi
Inflasi di Indonesia merupakan Inflasi yang cukup tinggi, terbukti bahwa negara Indonesia menempati urutan ke-5 tertinggi di ASEAN[4], umumnya ini disebabkan karena keterkaitan kebijakan fiskal dan moneter, juga penurunan nilai tukar.
a.       Karakteristik/sebab negara indonesia menjadi negara yang tingkat inflasinya tinggi adalah sebagai berikut:[5]
1)   Inersia[6] Inflasi yang cukup tinggi. Pada analisis ini pembentukan inflasi terjadi karena adanya penawaran-penawaran yang mengejutkan (Supply shocks) dan penekanan /kenaikan biaya dan penurunan produksi (costpush). Seperti kejutan harga minyak dunia, kenaikan harga BBM, depresiasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah serta kenaikan upah minimum yang melebihi inflasi[7].

2)   Dampak Output Gap terhadap Inflasi.
Keadaan output gap adalah selisih antara output aktual dan output potensial.[8] Dapat diartikan bahwa output gap adalah, keadaan yang dapat menggambarkan adanya, kelebihan permintaan atau kelebihan penawaran, dalam konteks tersebut output gap bernilai positif, yang artinya keadaan kelebihan permintaan, sehingga harga cenderung naik dan menyebabkan timbulnya probabilitas inflasi.
3)   Korelasi yang kuat antara faktor stabilitas politik dan institusional dengan inflasi.
Adanya hubungan positif yang mengikat antara keadaan politik dengan aturan-aturan yang berlaku dalam negara indonesia akan menyebakakan adanya inflasi di Indonesia, seperti adanya perang politik pada saat pemilu yang akan menyebabkan negara tersebut ricuh sehingga pengawasan terhadap stabilitas ekonomi khususnya inflasi melemah.
Selain hal-hal tersebut, inflasi juga disebabkan karena berbagai faktor, baik dari segi permintaa, penawaran, ataupun ekspektasinya. Dari segi permintaan, secara historis pada tahun 1960 terjadi peningkatan uang yang beresdar yang disumbang oleh faktor deficit neraca perdagangan, dan pada tahun 1970 uang yang beredar juga bertambah yang disebabkan bertambahnya uang pemerintah pada sektor minyak, hubungan antara banyaknya jumlah uang beredar dan inflasi keduanya berpengaruh signifikan.Nilai tukar rupiah yang melemah juga menyebabkan terjadinya inflasi, karena berkaitan dengan persaingan dagang, terutama apabila produsen produk domestik tersebut membeli bahan baku produk dengan mengimportnya dari luar negeri, maka akan berpengaruh pada kenaikan harga.Yang paling populer di kalangan masyarakat awam, adalah BBM dan tarif listrik, jika harga BBM meningkat maka komditas akan mengalami kenaikan harga, karena berkaitan dengan pendistribusian produk, begitu pula dengan tarif listrik cenderung akan mempengarushi biaya overhead pabrik, yang akan menaikan harga jual produk.
Faktor Inflasi dari sisi penawaran juga disebabkan oleh adanya gangguan dari sisi penawaran (supply stock) seperti gagal penen, bencana alam, dan gangguan distribusi, sehingga distribusi tidak lancar, serta adanya kerusuhan sosialyang berakibat terputusnya pasokan dari luar daerah. Gangguan tersebut akan mempengaruhi jumlah barang yang ditawarkan dan pada akhirnya akan meningkatkan laju inflasi.[9]
Inflasi juga terjadi karena espektasi masyarakat akan pembentukan harga dan upah, masyarakat cenderuh menengok kebelakang dan tekini, maksudnya masyarakat menggunakan inflasi masa lalu sebagai batas standar yang kemudian mengkombinasikannya dengn inflasi terkini, sehingga dapat menentukan harga dan upah yang cukup tinggi.
2.      Sebab-sebab Inflasi Ramadhan Syawal.
          penyebab inflasi Ramadhan-Syawal adalah sama seperti peneyebab Inflasi pada umumnya. Yaitu dari segi permintaan, penawaran, dan ekspektasi. Tingginya tingkat permintaan masyarakat pada bulan ramadhan-syawal akan komoditas atau service, merupakan faktor utama yang mendasari terjadinya inflasi tahunan ini, seperti meningkatnya permintaan akan bahan pangan: beras, daging-dagingan, bumbu-bumbuan. Masyarakat cenderung mengkonsumsi lebih banyak dari pada bulan-bulan biasaya, karena pada bulan ramadhan-syawal begi mereka adalah hari perayaan dimana kepuasan akan lahir batin haruslah terpenuhi, begitu pula dengan konsumsi akan bahan sandang, masyaarakat cenderung membeli pakaian, baju, ataupun sandang lainya yang akan digunakan pada saat perayaan hari raya idhul fitri, sehinnga permintaan pada sandang juga meningkat, pada bulan Ramadhan khsusnya di Indonesia, terdapat tradisi yang unik dibandingkan negara lain, yaitu “mudik”, tradisi tersebut juga mengakibatkan permintaan pada sektor transportasi. Kenaikan permintaan dapat mengakibatkan Inflasi, meskipun pada bulan ramadhan-syawal ini penawaran juga banyak, namun keduanya tidak sebanding, yang menyebabkan harga naik atau inflasi.
          Dari sisi perubahan penawaran seperti terhambatnya, lalu lintas perdagangan, adanya gagal panen, harga BBM yang naik pada bulan ramadhan (baca berita inflasi ramadhan : rappler.com), ditambah lagi adanya pelemahan nilai rupiah, yang semakin menambah laju inflasi ramadhan-syawal.
          Banyaknya uang yang beredar, pada bulan ramadhan-syawal karena pada bulan tersebut banyak cash in hand, seperti uang tunjangan karyawan (THR) banyak yang turun, dari segi perbankan juga banyak produk-produk yang mengusung tema simpanan hari raya, dll. Dan masyarakat juga lebih giat dalam bekerja, bekerja dengan insentif-insentifnya.
          Dari segi ekpektasi, artinya bahwa sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang, dapat di analisis menggunakan data historis masa lalu, ramadhan-syawal sejak tahun 2011- 2018 mengalami Inflasi rata-rata 10%, sehingga ekspektasi masyarakat pada tahun yang akan datang juga akan mengalami inflasi.
E.  Pengaruh Inflasi Ramadhan-Syawal
1.      Dampak Inflasi
Inflasi, memiliki dampak khusunya bagi perekonomian itu sendiri, berkaitan dengan dampak, terdapat dampak yang positif dan dampak negatif, inflasi juga menyebakan dampak  yang baik ataupun buruk. Secara umum, inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, menurut kebanyakan ahli ekonomi inflasi tersebut justru mempunyai  pengaruh yang positif bagi perekonomian dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi) keadaan perekonomian menjadi kacau danperekonomian menjadi lesu, orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat, para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup juga menjadi semakin terpuruk dari waktu ke waktu.[10]
Dampak (efek-efek) dari Inflasi adalah sebagai berikut :[11]
a)    Efek Terhadap Pendapatan. Inflasi terhadap pendapatn sangatlah berpengaruh, terutama bagi seorang yang bekerja dan mendapatkan gaji yang tetap perbulannya. Karena terjadi pada keniakan harga-harga barang, sedangkan masyarakat memiliki gaji tetap, maka gaji yang tetap tersebut tidak bisa untuk membeli barang dengan wujud atau harga yang sama. berpengaruh Juga terjadi pada perbankan, khususnya nasabah yang melakukan “saving” maka uang yang diperoleh dari saving tersenut kurang berharga karrena terjadinya inflasi. disisi lain juga ada yang diuntungkan atas inflasi, yaitu masyarakat yang mengeskbor barang akan mendapatkan selisih lebih dari penjualannya.
b)   Efek terhadap Efisisensi (Efficiency Effect).
Inflasi akan mengakibatkan tidak efisisennya alokasi faktor-faktor produksi barang lain, karena kenaikan permintaan terjadi pada barang-barang tertentu, yang kemudian merubah alokasi faktor-faktor produksi (SDA) yang sudah  ada. Memang tidak ada jaminan bahwa alokasi faktor produksi itu lebih efisien dalam keadaan tidak ada inflasi, namun kebanyakan ahli ekonomi brpendapat bahwa inflasi mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien.[12]

c)    Efek terhadap Output (Output Effect)
Efek inflasi terhadap output berbeda, ada dua macam pengaruh output karena terjadinya inflasi. [13]
1)    Iinflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi kenaikan harga barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang menguntungkan produsen.
2)    Bila laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunya jumlah hasil produski, diakarenakan nilai riil uang akan turuun dan masyarakat tidak senang memiliki uang tunai, akibatnya pertkaran dilakukan antar barang dengan barang.
d)   Efek inflasi terhadap pengangguran
Suatu perusahaan jika menghadapi adanya inflasi, maka biasanaya akan memberhentikan karyawan, atau mengistirahatkan sementara, pada saat terjadi inflasi harga bahn baku unttuk produsksi cenderung naik, sehingga akan berpengaruh pada output barang yang sedikit, atau penewaran nya rendah, sehingga perusahaan akan memberhhentikan karyawan, atau mengistirahatkan karyawan sementara sehingga pengganguran akan meningkat.
e)    Efek inflasi terhadap perkembangan ekonomi.
Inflasi akan menyebabkan produktifitas perusahaan menurun, para pemilik modal cenderung kana menginvestasikannya terhadap usaha-usaha yang tidak tergerus akan inflasi, seperti membeli tanah, membuat usaha properti, dll. Sehingga perpurana ekonomi menjadi terhambat di masa sekarang. Namun dimasa yang akan datang terdapat dua kemungkinan bertumbuh atau menurun, karena dimasa yanga kan akan daang berbagai faktor-faktor yang mendukung majunya perekonomian bisa berubah ubah.
f)    Efek Inflasi terhadap kemakmuran masyarakat.
Selain akibat buruk bagi ekonomi, inflasi juga Akibat buruk bagi individu, antara lain;[14]
1)        Inflasi akan menurunkan pendapatan riil orang-orang yang berpendapatan tetap.
2)        Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
3)        Memperburuk pembagian kekayaan.

2.      Pengaruh Inflasi Ramdhan-Syawal.
Inflasi yang terjadi pada bulan ramadhan-syawal, adalah jenis inflasi yang rendah yaitu kurang dari 10%, sehingga inflasi ini merupakan inflasi yang mudah dikendalikan oleh pemerintah, inflasi ini tidak terjadi lama, naumn dalam kapasitas yang kecil walaupun kecil inflasi ini cukup terasa, dalam hal kenaikan harga-harga yang ada pada sebuah negara, terlebih ketika menjelang hari raya idhul fitri, dan 10 hari pasca perayaan tersebut sangat terasa sekali. Seperti telah dijelaskan diatas adalah inflasi yang kuantitasnya rendah, dampak positifnya adalah pertama, dari sudut  produsen, pada bulan ramadhan-syawal terjadi kenaikan permintaan yang berdampak pada sedikitnya penawaran barang, sehingga para produsen akan lebih giat dalam bekerja sehingga dapat memenuhi banyaknya permintaan barang tersebut. kedua Dari segi ketenagakerjaan, jika perusahaan / produsen terus mengejar permintaa akan barang maka lowongan pekerjaan akan terbuka luas, dan pengangguran akan semakin sedikit, maka perusahaan akan produktif, jika hal tersebut terjadi maka ekonomi akan berputar, dan ketersediaan uang akan bertambah. Maka inflasi akan sedikit teranalisir.  Dan keadaan akan kembali seperti semula.
Dampak negatif dari inflansi ramadhan-syawal, pertama, jumlah uang yang beredar akan bertambah, sehingga akan terjadi penurunan nilai tukar rupiah (depreciation IDR) yang akan mengakibatkan kurang diminatinya nilai uang rupiah terhadap negara lain. Kedua dari segi pendapatan, terutama masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, maka akan tergerus adanya inflasi yang akan menyebabkan  Penurunan daya beli tersebut selanjutnya akan berdampak terhadap individu, dunia usaha, serta anggaran pendapatan dan belanja pemerintah. [15] ketiga, jika harga naik maka produktifitas akan menurun, karena harga barang saling mempengaruhi barang yang lain, sehingga ketidakstabilan penawaran akan terjadi.
Akibat buruk terjadinya inflasi adalah ketika harga yang terus menerus naik maka mengakibatkan para pemiliki modal lebih menginvestasikannya untuk tujuan spekualif seperti yang telah dijelaskan di atas maka bisnis yang dalam kegiatan produktif sangat tidak menguntungakan,dan akan mengakibatkan diberhentikannya karyawan dan pengangguran akan meningkat.[16] Begitu pula dengan inflasi ramadhan-syawal ini, jika lebaran telah usai, biasanya perusahaan, atau pabrik-pabrik mengalami resesi, karena permintaannya telah berkurang, yang menyebabkan turn over nya karyawan. Tingkat pengangguran meningkat.
F.   Kesimpulan
 Dari uraian diatas dapat dtarik beberapa kesimpulan, bahwa Inflasi Ramadhan-Syawal adalah Inflasi tahunan yang selalu ada setiap tahunnya, dan hampir tidak bisa dihindari. inflasi ramadhan syawal merupakan inflasi demand-pull inflation yaitu karena banyaknya permintaan komoditas, dan juga termasuk kedalam Cost-pust inflation, karena pada saat terjadi kenaikan harga-harga komoditas barang. Berkaitan dengan kenaikan penawaran pada saat  Ramadhan-Syawal, namun harga barang tetap naik meskipun penawarannya banyak. Dari segi sifatnya inflasi ramadhan-syawal tergolong inflasi yang rendah, yaitu kurang dari 10 %.
Sebab dari inflasi Ramadhan-Syawal tingginya permintaan sehingga ketidakcukupan pemenuhan permintaan menjadikan inflasi, masyarakat cenderung mengkonsumsi lebih banyak dari pada bulan-bulan biasaya, seperti pada bahan pangan, sandang, transportasi “mudik”. Banyaknya uang yang beredar, pada bulan ramadhan-syawal karena pada bulan tersebut banyak cash in hand, seperti uang tunjangan karyawan (THR) banyak yang turun, dari segi perbankan juga banyak produk-produk yang mengusung tema simpanan hari raya, dll. Dan masyarakat juga lebih giat dalam bekerja, bekerja dengan insentif-insentifnya. Dari segi ekpektasi, artinya bahwa sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang, dapat di analisis menggunakan data historis masa lalu, ramadhan-syawal sejak tahun 2011- 2018 mengalami Inflasi rata-rata 10%, sehingga ekspektasi masyarakat pada tahun yang akan datang juga akan mengalami inflasi.
Pengaruh Inflasi Ramdhan-Syawal. Pengaruh positif pertama, dari sudut  produsen, pada bulan ramadhan-syawal terjadi kenaikan permintaan yang berdampak pada sedikitnya penawaran barang, sehingga para produsen akan lebih giat dalam bekerja sehingga dapat memenuhi banyaknya permintaan barang tersebut. kedua Dari segi ketenagakerjaan, jika perusahaan / produsen terus mengejar permintaa akan barang maka lowongan pekerjaan akan terbuka luas, dan pengangguran akan semakin sedikit. Pengaruh negatif pertama, jumlah uang yang beredar akan bertambah, sehingga akan terjadi penurunan nilai tukar rupiah (depreciation IDR) yang akan mengakibatkan kurang diminatinya nilai uang rupiah terhadap negara lain. Kedua dari segi pendapatan, terutama masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, maka akan tergerus adnya inflasi yang akan menyebabkan turunya daya beli masyarakat tehadap barag yang akan dikonsumsi. ketiga, jika harga naik maka produktifitas akan menurun, karena harga barang saling mempengaruhi barang yang lain, sehingga ketidakstabilan penawaran akan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Hasyim, Ali Ibrahim. Ekonomi Makro. 2016. Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP.
Naf’an. EKONOMI MAKRO : Tinjauan Ekonomi Syari’ah, 2014. Yogjakarta: GRAHA ILMU.
Nopirin, Ekonomi Moneter. 2012. Yogyakarta : BPFE
Reksoprayitno,Soediyono.  Ekonomi Moneter : Analisis IS_LM dan Permintaan-Penawaran Agregatif. 2011. Yogyakarta :  BPFE
Suseno & Astiyah. Inflasi. Jakarta:Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA.
Utari, G.A. Diah, dkk. INFLASI DI INDONESIA : KARAKTERISTIK DAN PENEGENDALIANNYA. 2015. Jakarta:  BANK INDONESIA INSTITUTE.
Saputra,Kurniawan. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI DI INDONESIA 2007-2012. 2013. Skripsi.


[1] Nopirin, Ekonomi Moneter. (Yogyakarta : BPFE. 2012) hlm. 25
[2] Soediyono Reksoprayitno. Ekonomi Moneter : Analisis IS_LM dan Permintaan-Penawaran Agregatif. (Yogyakarta :  BPFE. 2011). Hlm. 179.
[3] Nopirin, Ekonomi Moneter. Hal 27.
[4] G.A. Diah Utari, dkk. INFLASI DI INDONESIA : KARAKTERISTIK DAN PENEGENDALIANNYA. (Jakarta:  BANK INDONESIA INSTITUTE. 2015 ). Hal 37
[5] G.A. Diah Utari, dkk. INFLASI DI INDONESIA : KARAKTERISTIK DAN PENEGENDALIANNYA. Hal 27
[6] Inersia dalam bahasa latin, “iners”  yang berarti lembam, secara numerik adalah massa, dalam pemakaian umum orang juga dapat menggunakan istilah “inersia” untuk mengacu kepada “jumlah tahanan terhadap perubahan kecepatan” (yang dikuantitifikasi sebagai massa) jadi dalam hal ini diartikan sebagai “subjek atau pelaku itu sendiri “. Dikutip dari //id.m.wikipedia.org/wiki/inersia.
[7] G.A. Diah Utari, dkk. INFLASI DI INDONESIA : KARAKTERISTIK DAN PENEGENDALIANNYA. Hal 28
[8]www.fiskal.kemenkeu.go.id
[9] G.A. Diah Utari, dkk. INFLASI DI INDONESIA : KARAKTERISTIK DAN PENEGENDALIANNYA. Hal  42
[10] Kurniawan Saputra. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI DI INDONESIA 2007-2012. Skripsi. 2013. Hal. 58

[11] Naf’an. EKONOMI MAKRO : Tinjauan Ekonomi Syari’ah, (Yogjakarta: GRAHA ILMU.2014). Hlm. 124
[12] Nopirin, Ekonomi Moneter. Hal 33.
[13] Naf’an. EKONOMI MAKRO : Tinjauan Ekonomi Syari’ah. Hal 125
[14] Naf’an. EKONOMI MAKRO : Tinjauan Ekonomi Syari’ah. Hal 126
[15] Suseno & Siti Astiyah. Inflasi. (Jakarta:Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA.). Hal 17.

[16] Ali Ibrahim Hasyim, Ekonomi Makro. (Jakarta: PRENADA MEDIA GROUP. 2016). Hal. 186

Tidak ada komentar:

Posting Komentar