Generasi Baru Indonesia Tegal

Kamis, 05 September 2019

“Faktor Pengaruh Inflasi di Indonesia”



“Faktor Pengaruh Inflasi di Indonesia”
Khoirotun Nisak
GenBI Tegal
Perekonimian suatu Negara dapat dikatakan sehat apabila pertumbuhan ekoniminya stabil serta menunjukkan arah yang positif. Hal tersebut tercemin fari kegiatan ekonomi makro. Salah satu indikatir ekonomi makro untuk melihat stabilitas perekonomian suatu Negara adalah inflasi. Naik turunya inflasi cenderung mengakibatkan terjadinya gejolak ekonomi. Dikarenakan inflasi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonimi, neraca perdagangan internasional, nilai utang piutang antar negara, tingkat bunga, tabungan domestic, pengangguran dan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu peristiwa moneter yang penting dan hampir dijumpai semua Negara di Dunia adalah inflasi. Inflasi berasal dari Bahasa latin “inflance” yang berarti meningkatkan. Secara umum inflasi adalah perkembangan dalam perekonomian, dimana harga dan gaji meningkat, permintaan tenaga kerja melebihi penawaran dan jumlah uang yang beredar sangat meningkat. Inflasi juga dapat diartikan peningkatan harga-harga secara cepat dan terus menerus. Inflasi ibarat hantu yang mengintai perekonomian dimana pergerakkannya tidak mudah untuk di terka.

Di Indonesia nilai inflasi tergolong tiggi sehingga banyak masalah ekonomi susulan yang mengintai. Inflasi di Indonesia juga sangat sensitif dan mudah sekali naik. Salah satu cara untuk meredam laju inflasi adalah jumlah uang yang beredar, karena inflasi sangat dipengaruhi oleh jumlah uang beredar di suatu negara. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara impor minyak terbersar akibat ketergantungan terhadap minyak yang sangat tinggi untuk menggerakkan perekonomian. Dimana peran minyak bumi sangatlah besar dalam kegiatan ekonomi sebagai input produksi di tingkat perusahaan maupun untuk konsumsi di skala rumah tangga. Kenaikkan harga minyak dunia akan mempengaruhi harga dalam negeri.
Indonesia mengalami krisis moneter sejak pertengahan tahun 1997 yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Pada tahun 1998 Indonesia mengalami inflasi yang sangat tinggi yaitu mencapai 77,6%. Dimana peningkatan laju inflasi disebabkan oleh depresiasi nilai tukar rupiah, krisis ekonomi dan ekspektasi terhadap inflasi yang tinggi. Sebelumnya Indonesia pernah mengalami hiper inflasi pada masa orde lama yaitru pada tahun 1996. Sehingga secara psikologis inflasi dapat diartikan krisis bagi msyarakat Indonesia. (A,M. Soesilo, 2002:1).
Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap Inflasi
Hubungan antara inflasi dan jumlah uang beredar merupakan teori kuantitas uang. Pertama, inflasi hanya bisa terjadi apabila terdapat penambahan volume uang yang beredar, tanpa ada kenaikan jumlah uang beredar yang hanya menaikan harga-harga untuk semntara waktu saja, jika jumlah uang tidak bertambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab dari awal kenaikkan harga tersebut. Kedua, laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai harga-harga di masa depan. Nilai uang ditentukan oleh supply dan demand terhadap uang. Jumlah uang beredar sendiri ditentukan oleh Bank Sentral, sedangkan junmlah uang yang diminta ditentukan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu tingkat harga rata-rata dalam perekonomian. Jumlah uang yang diminta oleh masyarakat untuk melakukan sebuah transaksi tergantung pada tingkat harga barang dan jasa yang tersedia. Semakin tinggi tingkat harga, semakin besar jumlah uang yang diminta.
Pengaruh Harga Minyak Dunia terhadap Inflasi
Minyak bumi erupakan salah satu biaya utama bagi setiap industry, sehingga bila terjadi guncangan penawaran akan terasa efeknya ke semua bidang. Apabila terjadi kenaikan harga minyak dunia itu akan sangat mempengaruhi harga bahan bakar minyakdi seluruh dunia termasuk di Indonesia, walaupun Indonesia merupakan salah satu negara importir minyak bumi. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa mekanisme transisi dampak oil price shock terhadap harga inflasi, bahwasannya apabila terjadi kenaikan harga minyak dunia maka perusahaan akan merespon dengan menaikkan harga.
Pengaruh KURS terhadap Inflasi
Nilai tukar rupiah merupakan perbandingan nikai atau harga mata uang rupiah dengan mata uang lain. Dimana masing-masing negara mempunyai perbandingan alat tukarnya sendiri dimana mengharuskan adanya angka peerbandingan nilai mata uang dengan mata uang lainnya, yang disebut nilai tukar valuta asing atau nilai tukar. Secara dramatis nilai tukar yang melonjak-lonjak tak terkendali akan mengakibatkan kesulitan pada dunia usaha dalam merencanakan usahanya terutama bagi mereka yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri atau menjual barangnya ke pasar ekspor, oleh sebab itu maka pengelolaan nilai mata uang yang relatif stabil menjadi salah satu faktor moneter yang mendukung perekonomian secara makro.
Pengaruh BI rate terhadap Inflasi
Disebutkan bahwasannya dalam Inflation Targeting Freamwork bahwa BI Rate merupakan suku Bungan acuan Bank Indonesia dan merupakan sinyal dari kebijakan moneter Bank. Tingakat bunga adalah pembayaran yang dilakukan untuk penggunaan yang. Sedangkan tingkat bunga dalah jumlah uang yang dibayarkan per unit waktu. Dengan kata lain, masyarakat harus membayar biaya untuk meminjam uang.

Referensi :
Bank Indonesia, www.bi.go.id.
Blanchard O. 2011. Macroeconomic. Updated Edition: Fufth Edition. Boston (US), Pearson.
Boediono, 1985, Ekoniomi Moneter seri synopsis Pengantar Ilmu Ekonomoneter NO.5, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Heru Perlambang. (2010) Analiais Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga, Nilai Tukar Terhadap Tingkat Infllasi, Media Ekonomi Vol, 19 No,2.
Pohan, Aulia. 2008. Potret Kebijakan Moneter Indonesia, Jakarta: PT raja Grafindo.
Salvatore, Dominuck. 2008. Theory and Problrm of Micro Economic Theory. 3rd Edition, Alih Bahasa oleh Rudi Sitompul. Jakarta: Eelangga




Tidak ada komentar:

Posting Komentar