Generasi Baru Indonesia Tegal

Jumat, 06 September 2019

Digitalisasi Ekonomi Syariah di Indonesia, Sudah Tumbuhkah?



Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, dewasa ini Indonesia terus berusaha mengembangkan potensi digitalisasi dalam berbagai bidang utamanya dalam bidang ekonomi syariah. Menurut data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk muslim Indonesia mencakup 13% dari jumlah muslim dunia yaitu sekitar 204 juta jiwa. Kebutuhan akan produk halal bagi masyarakat muslim menuntut para penggerak digitalisasi ekonomi untuk mengembangkan ke ranah digitalisasi ekonomi berbasis syariah yang berasaskan pada kaidah Islam.
Digitalisasi merupakan bentuk peralihan dari pengoperasian yang banyak menggunakan tenaga manusia menjadi pengoperasian yang lebih praktis dan canggih dengan sistem komputer. Semakin majunya teknologi seperti dalam bentuk alat komunikasi, setiap orang dapat mengirim dan menerima pesan dengan mudah. Definisi digital economy versi Encarta Dictionary adalah “Business transactions on the Internet: the marketplace that exists on the Internet” yaitu bahwa ekonomi digital lebih menitikberatkan pada transaksi dan pasar yang terjadi di dunia internet. Kemajuan dalam bidang komunikasi memang tidak lepas dari dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya yaitu para penggiat ekonomi dapat memanfaatkan digitalisasi agar usaha yang dimiliki dapat dikelola dengan lebih praktis dan baik. Pesatnya perkembangan media massa dan arus informasi di Indonesia juga semakin mendukung perkembangan dalam memajukan perekonomian.

Untuk dapat mengembangkan digitalisasi ekonomi di Indonesia, para penggerak dalam bidang ekonomi memerlukan pemahaman yang spesifik mengenai konsep dan alur yang hendak dilaksanakan agar dapat mencapai tujuan Indonesia menjadi negara dengan perekonomian digital yang maju di kancah dunia. Ekonomi syariah menurut M.A. Manan adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam. Prinsip ekonomi Islam adalah dengan berdasar pada beberapa kaidah diantaranya larangan maisyir, larangan gharar, larangan melakukan hal haram, larangan dzalim, larangan ikhtikar, larangan riba. Ekonomi syariah belakangan ini dinilai sangat pesat perkembangannya, tidak hanya di negara berpenduduk muslim terbanyak saja yang gencar menyuarakan produk halal, namun negara yang penduduk muslimnya minoritas pun turut mengembangkan ekonomi syariah, baik produk sandang, pangan, jasa, hingga pariwisata. Contohnya negera Korea Selatan yang memiliki visi negara dengan destinasi pariwisata halal dan Thailand yang ingin menjadi pusat makanan halal dunia.
Adanya perkembangan ekonomi syariah yang cukup signifikan menuju ke arah yang lebih baik membuat banyak penggiat ekonomi di Indonesia turut mengembangkan produknya menjadi produk yang berbasis syariah. Sebagai negara dengan penduduk muslim paling banyak, Indonesia tidak ingin tertinggal dalam memajukan ekonomi syariah. Kontribusi ini dapat ditemui dengan banyaknya produk makanan, pakaian, kosmetik, hingga produk halal lain yang diekspor ke luar negeri. Banyak perusahaan go public hingga UMKM yang telah memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk memperluas dan mempermudah pemasaran produknya. Beberapa diantaranya dengan memanfaatkan startup sebagai tempat untuk mengenalkan dan memasarkan produk. Banyak produk telah dijual melalui beberapa startup terbaik Indonesia seperti Bukalapak, Blibli, Traveloka, Ruangguru, dan Go-Jek.
Penggunaan startup sebagai media pemasaran dinilai sangat efektif karena kini masyarakat sudah menggunakan alat komunikasi berupa ponsel pintar dalam keseharian. Startup berupa aplikasi yang dengan mudah dapat diunduh melalui ponsel membuat masyarakat praktis dalam bertransaksi. Di samping itu perusahaan dalam negeri juga gencar memproduksi produk-produk yang dibutuhkan masyarakat dengan kualitas baik, sehingga masyarakat akan lebih memilih mengkonsumsi produk lokal, konsumsi produk impor berkurang dan pendapatan produk ekspor meningkat. Khususnya untuk produk berbasis syariah dan berlabelkan halal, banyak perusahaan seperti pakaian muslim, makanan halal, kosmetik halal, hingga produk jasa perbankan syariah dibuat pemasarannya dalam bentuk aplikasi sehingga tidak kalah saing dari produk umum yang belum pasti tingkat kehalalannya.
Bank Indonesia sebagai bank sentral berperan mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan inovasi dengan tetap menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, sistem pembayaran yang aman, lancar dan efisien, serta mitigasi risiko dan perlindungan terhadap konsumen. Peran tersebut melalui penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 18/40/PBI/2016 dan pembentukan BI Fintech Office.
Digitalisasi ekonomi syariah dapat dikatakan sekadar istilah dalam menyebut bagaimana perekonomian berbasis syariah di Indonesia semakin meningkatkan kualitas pemasarannya melalui teknologi digital yang praktis dan terkini dengan tetap berasas pada kaidah hukum Islam dalam Al-Qur’an dan Hadits. Di Indonesia dewasa ini sudah banyak perusahaan maupun UMKM yang melek akan pentingnya digitalisasi, meski masih ada pula yang belum memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia sudah signifikan dan cukup baik, namun untuk sampai pada tujuan menjadi pusat ekonomi Islam dunia, Indonesia masih perlu langkah yang lebih lebar dan cepat agar tidak tertinggal dari negara-negara lain yang juga gencar mengembangkan perekonomian berbasis syariah. Dengan mayoritas penduduk muslim terbanyak di dunia, untuk menjadi negara yang ekonomi syariahnya maju seharusnya bukan perihal yang sulit. Perlu kerjasama antara pemerintah maupun masyarakat untuk terus menumbuhkan ekonomi syariah menjadi lebih baik kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
Aan Ansori. 2016. Islamiconomic: Jurnal Ekonomi Keuangan dan Bisnis Islam. Banten : IAIN Sultan Maulana Hasanuddin. Vol.7 No.1 Januari – Juni


Penulis : Uswatun Hasanah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar