Generasi Baru Indonesia Tegal

Jumat, 06 September 2019

Analisis Pengembangan Halal Tourism di Indonesia

Analisis Pengembangan Halal Tourism di Indonesia

I.                    PENDAHULUAN
      Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk beragama Islam terbesar di dunia hendaknya menjadikan  industri halal  sebagai  lokomotif pembangunan  ekonomi. Salah  satu  industri  halal  yang  telah  mengalami  pertumbuhan  dengan  pesat  adalah pariwisata halal  atau wisata halal  (Kemenpar, 2015).
      Kesadaran akan masalah halal di kalangan umat Islam telah meningkat secara signifikan termasuk di antara para wisatawan Muslim. Oleh karena itu, pariwisata halal adalah industri yang berkembang pesat. Sebagai hasilnya, ada minat yang semakin besar pada pilihan halal untuk memenuhi kebutuhan perjalanan Muslim dan minat yang meningkat seiring dengan pariwisata halal di antara para wisatawan, peneliti, pembuat kebijakan, pemain industri, dan pemasar tujuan.
      Hal  ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya  peringkat  Indonesia  sebagai  negara  destinasi  halal dunia  dalam  kurun waktu  3  tahun  berturut-turut,  pada  tahun  2015  Indonesia  berada  pada  peringkat  6 dengan  skor  67.5.  Pada  tahun  2016  peringkat  Indonesia  naik  2  peringkat  menjadi peringkat 4 menggeser Qatar dan Saudi Arabia. Tahun 2017 peringkat  Indonesia naik menjadi  peringkat  3 menggeser Turki  dengan  skor 72.6. Pada tahun 2018 peringkat  Indonesia  naik  2  peringkat  menjadi peringkat 2 bersama Uni Emirat Arab dengan skor 72,8. Dan pada tahun 2019 Indonesia berhasil menempati peringkat pertama bersama Malaysia dengan skor 78.
      Hal  ini membuktikan  bahwa pariwisata  halal  Indonesia  merupakan  sektor  Industri  halal  yang  sangat  pesat perkembangannya. Terbukti dalam kurun waktu 5 tahun, Indonesia berhasil mendapat pencapaian yang luar biasa. Upaya Indonesia untuk mencapai posisi terbaik dilakukan secara serius diantaranya dengan membuat Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) yang mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

II.                 PEMBAHASAN
      Wisata Halal atau Halal Tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang diperuntukkan bagi wisatawan muslim (wislim) yang pelaksanaannya mematuhi aturan atau prinsip-prinsip syariah. Pengembangan pariwisata halal merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang sudah dikerjakan sejak 5 tahun yang lalu.
      Sektor pariwisata merupakan salah satu  sektor  yang  mampu  meningkatkan  lapangan  kerja  dan pertumbuhan  ekonomi.  Saat  ini,  wisata  halal  (halal  tourism)  mulai  banyak  diminati.  Hal  tersebut seiring  dengan peningkatan  wisatawan muslim  dari  tahun  ke  tahun.  Pengembangan  wisata  halal mulai banyak dilakukan oleh berbagai negara, baik negara dengan mayoritas muslim maupun non-muslim.
      Sebagai  upaya  untuk  mengembangkan  wisata  halal  (halal  tourism),  Indonesai  berusaha meningkatkan keberadaan hotel syariah. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia telah membuat pedoman penyelenggaraan hotel syariah. Syariah yang dimaksud disini adalah prinsip-prinsip hukum  Islam sebagaimana yang diatur  fatwa dan atau  telah disetujui oleh Majelis Ulama Idonesia (MUI).
      Indonesia  melakukan  sinergi  dengan  banyak  pihak  untuk  mengembangkan  wisata  halal  (halal tourism), contohnya Kementerian Pariwisata yang melakukan kerjasama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama  Indonesia (MUI) dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU). Wujud konkret kerjasama tersebut  yaitu  dengan  cara mengembangkan  pariwisata  serta mengedepankan  budaya  serta  nilai-nilai agama  yang  kemudian  akan  dituangkan  dalam  Peraturan  Menteri  Pariwisata  dan  Ekonomi  Kreatif (Jaelani,  2017).  Selain  itu  juga  dilakukan  pelatihan  sumber  daya  manusia,  sosialisasi,  dan  capacity building.  Pemerintah  juga  bekerja  sama  dengan  Perhimpunan  Hotel  dan Restoran  Indonesia  (PHRI) untuk menyediakan  penginapan  halal  dan  tempat makan  yang  bisa menyajikan menu makanan  halal, dan  bekerjasama  sama  juga  dengan  Association  of  the  Indonesia  Tours  and  Travel  (ASITA) untuk membuat paket wisata halal ke  tempat wisata  religi.
      Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisatawan mancanegara adalah wisatawan muslim.
      Pada tahun 2019 ini, penguatan destinasi pariwisata halal akan dilakukan dengan menambah keikutsertaan 6 Kabupaten dan Kota yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur.
PELUANG
      Populasi muslim  saat  ini  sekitar  30  persen  dari  total  populasi  dunia.  Jumlah populasi muslim diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut lebih tinggi dari  populasi  penganut  agama  lainnya  (Pew  Research  Center,  2017).  Diperkirakan  populasi  muslim antara  tahun  2015  hingga  2060 meningkat  sebesar  70  persen, sedangkan  populasi  dunia meningkat  sebesar  32  persen  atau  jumlah  total  populasi  dunia  pada  tahun  2060  sebanyak  9.6 miliar orang.  Hal  ini  juga  menandakan  bahwa  wisatawan  muslim  akan  terus meningkat.  Pada  tahun  2020, wisatawan  muslim  diperkirakan  meningkat  sebesar  30  persen  dan  meningkatkan  nilai  pengeluaran hingga 200 miliar USD (Master Card dan Crescent Rating, 2016).
      Adanya  peningkatan  wisatawan  muslim  merupakan  peluang  bagi  sektor  pariwisata  untuk mengembangkan wisata  halal.  Sehingga  beberapa  negara mulai mengambil  peluang  tersebut  dengan mengembangkan  wisata  halal,  baik  negara  dengan  mayoritas  muslim  maupun  non-muslim  seperti Jepang,  Korea  Selatan,  Australia,  dan  Thailand.  Diharapkan  tempat-tempat  wisata,  hotel,  restoran, maskapai  penerbangan,  agen  perjalanan  serta  semua  yang  terlibat  dalam  pariwasata  dapat  terlibat  di wisata halal. Agen perjalanan memiliki peluang wisata halal dalam berbagai bidang (Battour dan  Ismail, 2016).
      Jumlah  restoran halal dan hotel syariah masih  terbatas, baik di negara dengan mayoritas muslim maupun non-muslim. Keterbatasan  tersebut  juga dipengaruhi  oleh  kurangnya  pemahaman  terkait halal (El-Gohury,  2016;  Mohsin  et  al.  2016;  Han  et  al.  2018).  Oleh  karena  itu,  pendidikan  dan  program pelatihan  terkait  halal  diperlukan.  Sehingga  ini  dapat  menjadi  peluang  bagi  universitas  dan  pusat pelatihan atau riset untuk menawarkan program tersebut. Selain itu, diperlukan standarisari dalam wisata halal yakni berupa sertifikasi halal di restoran, hotel, dan lainnya.
TANTANGAN
      Tantangan dalam mengembangkan wisata halal salah satunya  terkait dengan pemasaran, karena pemasaran  wisata  halal  bukan  suatu  yang  mudah.  Hal  ini dikarenakan  perbedaan  antara  tuntutan wisatawan  non-muslim  dan wisatawan muslim. Wisatawan  non-muslim  dapat memutuskan  untuk  tidak melakukan  perjalanan  ke  objek wisata  tanpa  adanya  atribut  tertentu  (Battour  et  al.  2011;  Battour  dan Ismail, 2016). Sehingga salah satu  tantangan wisata halal adalah bagaimana melayani wisatawan non-muslim  dan memenuhi  kebutuhan  mereka  tanpa  berbenturan  dengan  konsep  wisata  halal.  Misalnya, beberapa hotel menyatakan bahwa mereka adalah hotel syariah di dalam promosinya dan  ini mungkin tidak menarik  bagi wisatawan  non-muslim. Oleh  karena  itu, wisata  halal  dapat menjadi  kendala  dalam sektor industri pariwisata. Namun juga dapat menjadi peluang bisnis untuk menggunakan kreativitas dan fleksibilitas dalam melayani berbagai  kebutuhan wisatawan muslim dan non-muslim. Hal  ini  juga dapat menjadi kajian atau riset untuk memecahkan masalah tersebut.
III.              SOLUSI/PENUTUP
      Wisata  halal  (halal  tourism) merupakan  studi  yang mulai  berkembang  beberapa  tahun  terakhir. Penggunaan  terminologi  terkait wisata  halal  juga  beragam  dan  hingga  kini masih menjadi  perdebatan. Begitu  juga dengan prinsip-prinsip dan atau  syarat utama wisata halal  yang belum disepakati. Namun, tersedianya  makanan  yang  halal,  produk  yang  tidak  mengandung  babi,  minuman  yang  tidak memabukkan  (mengandung  alkohol),  ketersediaan  fasilitas  ruang  ibadah  termasuk  tempat  wudhu, tersedianya  Al-Qur’an  dan  peralatan  ibadah  (shalat)  di  kamar,  petunjuk  kiblat  dan  pakaian  staf  yang sopan merupakan syarat yang mampu menciptakan suasana yang ramah muslim. 
      Adanya  peningkatan wisatawan muslim  dari  tahun  ke  tahun merupakan  peluang  dan  tantangan bagi  sektor  pariwisata  untuk  mengembangkan  wisata  halal.  Banyak  negara-negara  (baik  mayoritas muslim maupun  non-muslim)  berupaya mengembangkan wisata  halal. Namun,  dilihat  dari  konsep  dan prinsip wisata halal yang ada, negara-negara  tersebut umumnya hanya mencoba menciptakan suasana yang ramah muslim. Pengembangan  wisata  halal  perlu  untuk  dilakukan,  salah  satunya  dengan melakukan  berbagai penelitian atau kajian. Hingga kini, penelitian  terkait wisata halal masih  terbatas,  terutama di  Indonesia. Salah  satu  penelitian  yang  mungkin  dapat  dilakukan  yakni  terkait  persepsi  wisatawan  non-muslim terhadap wisata halal.

Penulis : Siti Naimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar